KHUTBAH JUM’AT BAHASA INDONESIA
LARANGAN MENCARI-CARI KESALAHAN ORANG LAIN
Oleh : LUTFI, S.Pd.I
Khutbah Pertama
الحَمْدُ لِلّٰهِ أَوَّلًا وَالحَمْدُ لِلّٰهِ أَخِرًا وَالحَمْدُ لِلّٰهِ مُسْتَغْرِقُ المَحَامِدِ كُلِّهَا. وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الحَاثِّ عَلٰى طَاعَةِ الكَرِيْمِ الغَفَّارِ، النَّاهِي عَنِ اتِّبَاعِ الهَوَى وَالنَّفْسِ وَالشَّيْطَانِ وَكُلِّ ضَارٍّ. وَعَلٰى آلِهِ السَّادَةِ الأَطْهَارِ وَأَصْحَابِهِ الأَخْيَارِ الأَبْرَارِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مُوْقِنٍ بِتَوْحِيْدِهِ، مُسْتَجِيْرٍ بِحَسَنِ تَأْيِيْدِهِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ الْمُصْطَفَى، وَأَمِيْنُهُ الْمُجْتَبَي وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلَى كَافَةِ الْوَرَى أَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللّٰهِ اِتَّقِ اللّٰهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: بِسْمِ اللّٰهِ الرّٰحْمَنِ الرّٰحِيْمِ، وَالْعَصْرِ إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِیْنَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah.
Alhamdulillah, segala puji kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Dalam suasana Jumat yang penuh berkah ini, khatib berwasiat kepada seluruh hadirin sekalian, terutama kepada diri khatib pribadi, marilah kita senantiasa menjaga dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Sebagaimana kita ketahui, takwa memiliki dua sisi penting. Pertama, menjalankan seluruh perintah syariat. Kedua, menjauhi segala bentuk larangan syariat. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ghazali dalam kitabnya, Bidayatul Hidayah:
اعْلَمْ أنَّ لِلدِّيْنِ شَطْرَيْنِ، أحَدَهُمَا: تَرْكُ المَنَاهِي، والآخَرُ: فِعْلُ الطَاعَاتِ.. وتَرْكُ المَنَاهِي هُوَ الأَشَدُّ؛ فَإِنَّ الطَّاعَاتِ يَقْدِرُ عَلَيْهَا كُلُّ وَاحِدِِ، وتَرْكُ الشَّهَوَاتِ لاَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلاَّ الصِّدِّيْقُوْنَ
Artinya, “Ketahuilah bahwa agama memiliki dua unsur penting: yang pertama adalah meninggalkan segala bentuk larangan, dan yang kedua adalah menjalankan ketaatan. Dan meninggalkan larangan adalah yang paling berat. Sebab, menjalankan perintah mampu dilakukan oleh siapa saja, tetapi meninggalkan syahwat hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang sungguh-sungguh mencari ridha Allah.”
Oleh karena itu, umat Islam tidak hanya dituntut untuk mengerjakan apa yang diperintahkan oleh syariat. Tidak kalah penting dari itu, umat Islam juga dituntut untuk menjaga seluruh anggota tubuh dari setiap larangan syariat. Kita diperintahkan menjaga lisan agar tidak berkata buruk, tidak mencela orang lain, tidak membuka aib orang lain, dan tidak menyakiti saudara kita dengan ucapan maupun perbuatan.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah.
Seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi, ada kegandrungan baru yang semakin mengemuka di tengah masyarakat, yaitu kegemaran mengumbar aib dan kekurangan orang lain. Hal ini tidak hanya terjadi di sebagian media, tetapi juga diperparah oleh perilaku manusia pada umumnya, terutama melalui media sosial. Hari ini, betapa mudahnya seseorang membuka aib sesama, melempar tuduhan, mencari-cari kesalahan orang lain, menyebarluaskannya, bahkan menjadikannya sebagai bahan lelucon. Sering kali semua itu dilakukan tanpa menyadari bahayanya. Padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah melarang perbuatan tersebut dengan sangat jelas dalam firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Dalam Tafsir Jami’ul Bayan, Imam At-Thabari menjelaskan bahwa makna “Wa laa tajassasu”, yang artinya “Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain”, adalah larangan keras dari Allah terhadap perbuatan saling mengintip, menyelidiki, dan mencari aib orang lain. Perbuatan ini termasuk dosa karena menunjukkan sikap tidak hormat dan mencampuri urusan pribadi yang tidak seharusnya.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah.
Selaras dengan larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga melarang umatnya mencari-cari dan mengumbar aib orang lain. Beliau bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَكُونُوا إِخْوَانًا
Artinya, “Jauhilah oleh kalian prasangka, sebab prasangka itu adalah ungkapan yang paling dusta. Dan janganlah kalian mencari-cari aib orang lain, jangan pula saling menebar kebencian dan jadilah kalian orang-orang yang bersaudara.” (HR al-Bukhari)
Karena itu, marilah kita berusaha lebih fokus untuk memperbaiki diri sendiri. Sebagaimana kita tidak suka apabila aib kita dibuka dan diumbar oleh orang lain, demikian pula seharusnya sikap kita terhadap aib saudara kita. Jangan mudah membuka, menyebarkan, atau menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan pembicaraan. Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا, سَتَرَهُ اَللَّهُ فِي اَلدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Artinya: “Barang siapa menutupi aib seorang, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR Muslim)
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah.
Kita semua adalah manusia yang tidak mungkin suci dari noda dosa dan kesalahan. Setiap orang pasti memiliki kekurangan, kekhilafan, dan aib. Seandainya Allah Subhanahu Wa Ta’ala menampakkan seluruh aib kita, niscaya kita tidak akan sanggup mengangkat kepala di hadapan sesama manusia. Maka, apabila kita melihat atau mendengar aib saudara kita yang sifatnya pribadi, wajib bagi kita untuk menutupinya, bukan menyebarkannya. Jika memang ada kemaslahatan untuk menasihati, maka nasihatilah secara sirri, secara tertutup, empat mata, dengan cara yang baik dan penuh kasih sayang. Sebaliknya, marilah kita sibukkan lisan dan pikiran kita dengan memperbanyak istighfar untuk diri sendiri, bukan dengan membicarakan atau memikirkan kesalahan dan aib orang lain. Sebab, balasan Allah sesuai dengan amal perbuatan hamba-Nya. Ketika kita menutup aib orang lain, Allah akan menutup aib kita. Namun, ketika kita membuka aib orang lain, Allah dapat membuka aib kita, meskipun kita berada di rumah sendiri. Demikian khutbah singkat ini. Semoga khutbah ini bermanfaat bagi kita semua. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengampuni seluruh dosa, kesalahan, dan kekhilafan kita. Amin ya Rabbal ‘alamin.
.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ