KHUTBAH JUM’AT
“Mewaspadai Bujuk Rayu Syetan”
Oleh : Trianto, S.H.I. (Penyuluh Agama Islam KUA Kotagede)
اَلْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارْ، اَلْعَزِيْزِ الْغَفَّارْ، مُكَوِّرِ اللَّيْلِ عَلَى النَّهَارْ، تَذْكِرَةً لِأُولِى الْقُلُوْبِ وَالْأَبْصَارْ، وَتَبْصِرَةً لِّذَوِي الْأَلْبَابِ وَالْاِعْتِبَارْ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِٰلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهْ الْمَلِكُ الْغَفَّارْ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلاَئِقِ وَالْبَشَرْ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأٰلِهِ وَصَحْبِهِ الْأَطْهَارْ. أَمَّا بَعْدُ فَيَآأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ ٱللّٰهِ ٱلرَّحْمٰنِ ٱلرَّحِيمِ إِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوا وَجَٰهَدُوا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ أُولَٓئِكَ يَرْجُوْنَ رَحْمَتَ اللهِۚ وَاللهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Jama’ah Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa. Yakni dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Hanya dengan bekal takwa inilah, kita dapat membedakan antara jalan kebenaran dan jalan kesesatan.
Jama’ah Jumat yang berbahagia,
Dalam mengarungi kehidupan dunia ini, kita memiliki musuh yang sangat nyata dan tidak pernah kenal lelah. Musuh itu adalah setan atau iblis, yang telah bersumpah di hadapan Allah untuk menyesatkan manusia dari jalan yang lurus. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al A’raf ayat 16-17 :
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ.ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ”
Artinya : (Iblis) menjawab, ‘Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.”
Makna syetan menggoda dari depan yaitu membuat manusia ragu terhadap hari akhir, surga, neraka, dan melalaikannya dari kehidupan setelah kematian. Sedangkan maksud menggoda dari belakang yaitu menghias kehidupan duniawi sedemikian rupa sehingga manusia menjadi serakah dan cinta berlebihan pada materi. Menggoda dari kanan bisa diartikan menggoda melalui urusan kebaikan, seperti menanamkan sifat malas beribadah, atau membuat seseorang merasa bangga dan riya’ atas amalnya. Dan menggoda dari kiri dimaknai bahwa syetan menggoda dengan membisikkan dan mempermudah jalan kemaksiatan serta perbuatan dosa agar terlihat indah.
Hadirin sidang sholat jum’at rahimakumullah
Setan menggoda manusia tidak secara tiba-tiba, melainkan melalui proses yang sangat halus dan terencana. Pertama, godaan dalam hal akidah dan keyakinan. Ini adalah tahapan paling berbahaya. Setan membisikkan keraguan di dalam hati manusia tentang keesaan Allah, kekuasaan-Nya, bahkan meragukan kebenaran agama Islam. Kedua, bujukan melakukan kesyirikan dan kekufuran. Jika langkah pertama berhasil, setan akan membawa manusia kepada perbuatan syirik, seperti meminta pertolongan kepada selain Allah atau percaya pada tahayul. Ketiga, menggoda untuk melakukan dosa besar. Setan terus menghiasi maksiat agar terlihat indah, seperti berjudi, mengkonsumsi minuman keras, narkoba, berzina, mencuri hingga membunuh. Keempat, meremehkan dosa kecil. Jika seseorang selamat dari dosa besar, setan akan membisikkan untuk meremehkan dosa-dosa kecil, seperti ghibah (menggunjing), berkata kotor, dan berbohong. Dosa kecil yang terus-menerus dilakukan akan menggelapkan hati.
Bahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memperingatkan kita mengenai kriteria orang-orang yang paling mudah dipengaruhi, didekati, dan dikuasai oleh setan. Yaitu orang yang suka berbohong dan banyak berbuat dosa. Hal ini secara jelas difirmankan oleh Allah dalam Surah Asy-Syu’ara ayat 221-222:
هَلْ اُنَبِّئُكُمْ عَلٰى مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيٰطِيْنُ. تَنَزَّلُ عَلٰى كُلِّ اَفَّاكٍ اَثِيْمٍ
Artinya: “Maukah Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada setiap pendusta yang banyak berdosa.”
Ayat ini memberikan peringatan keras kepada kita semua. Setan menjadikan para pendusta dan pelaku maksiat sebagai tempat berlabuh dan sarana untuk menyebarkan kesesatan. Mengapa demikian? Karena orang yang terbiasa berdusta dan melanggar aturan Allah telah membuka pintu hatinya untuk dimasuki oleh bisikan-bisikan jahat. Setan sangat menyukai orang-orang yang lisannya terbiasa berbohong, baik dalam skala kecil maupun besar, serta mereka yang gemar melakukan dosa dan kemaksiatan. Ketika seseorang terbiasa berbuat dosa, hatinya akan mengeras, sehingga ia kehilangan kemampuan untuk membedakan antara yang hak dan yang batil. Pada saat itulah, setan dengan mudah menguasai dan mengarahkan kehidupannya.
Jamaah Jumat yang Berbahagia,
Mari kita renungkan bahaya dari sifat dusta dan banyak dosa di dalam kehidupan kita sehari-hari:
- Dusta adalah Pangkal Kemunafikan
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda bahwa tanda-tanda orang munafik itu ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika dipercaya ia berkhianat. Kebohongan yang terus dipelihara akan mengantarkan seseorang kepada sifat nifaq .
- Menutup Pintu Petunjuk
Dosa yang dilakukan secara terus-menerus akan menjadi noda hitam di dalam hati. Jika hati telah tertutup noda hitam, nasihat agama tidak akan mampu menembus dan memberikan hidayah.
- Menghilangkan Keberkahan
Dusta dan dosa tidak akan pernah mendatangkan ketenangan. Sebaliknya, hal itu akan mendatangkan kegelisahan, merusak hubungan antar sesama, dan menghilangkan keberkahan rezeki.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Lalu, bagaimana cara kita membentengi diri dari tipu daya yang luar biasa ini?
Pertama : Senantiasa meluruskan niat dalam setiap langkah beramal, karena orang yang ikhlas sama sekali tidak bisa digoda dan disesatkan oleh setan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengabadikan sumpah Iblis dalam Surah Al-Hijr ayat 39-40:
قَالَ رَبِّ بِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِى الْاَرْضِ وَلَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ
اِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ
Artinya : “Iblis berkata: ‘Ya Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka (manusia) memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka’.”
Kedua : Memperdalam ilmu agama. Dengan ilmu, kita dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Ketiga : Memperbanyak zikir dan istighfar. Hati yang senantiasa mengingat Allah akan kebal dari bisikan setan. Keempat : Mendawamkan Ta’awudz. Yaitu senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, terutama saat akan memulai aktivitas. Kelima : Memperbanyak amal saleh dan berkumpul dengan orang-orang saleh. Karena lingkungan yang baik akan menguatkan iman kita.
Hadirin sidang sholat jum’at yang dimuliakan Allah
Akhirnya marilah kita tutup khutbah pertama ini dengan muhasabah diri, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa membimbing langkah kita dan melindungi keluarga kita dari segala bentuk bujuk rayu setan
.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
.عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.