MASJID SEBAGAI PENJAGA SPIRIT KEMERDEKAAN
Masjid Makmur, Bangsa Makmur
- Reza Bakhtiar R.
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ ۗفَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ
.
Jamaah shalat Jum’ah rohimakumulloh,
Selaku khatib, saya mewasiatkan kepada diri pribadi dan seluruh jamaah, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan terus menjalankan apa-apa yang perintah-Nya dan menjauhi apa-apa yang menjadi larangan-Nya. Ketakwaan bukan sekadar ucapan di lisan atau pengakuan di dalam hati, tetapi juga tercermin dalam sikap kita dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam ketaatan, kejujuran, amanah, kepedulian kepada sesama, serta kesungguhan dalam memakmurkan rumah-rumah Allah. Ketakwaan itulah sebaik-baik bekal menuju kehidupan yang kekal. Allah Swt. berfirman:
وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ
Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat. (QS. Al-Baqarah 197)
Jamaah shalat Jum’ah rohimakumulloh,
Insya Alloh, sebentar lagi, kita akan merayakan dan memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, yang tentu selalu menjadi pengingat dan pembelajaran bagi kita tentang perjuangan panjang para pendahulu yang dengan sukarela mengorbankan harta, tenaga, bahkan jiwa demi terbebas dari belenggu penjajahan.
Sebagai umat Islam, kita meyakini bahwa kemerdekaan adalah nikmat besar dari Allah Swt. Nikmat ini patut disyukuri, sebagaimana firman-Nya:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.” (QS. Ibrahim [14]: 7)
Namun, hari ini, ada pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama tentang bagaimana cara mensyukuri kemerdekaan itu?, Apakah cukup dengan memasang bendera pusaka dan umbul-umbul di depan rumah, mengikuti perlombaan, dan mengadakan berbagai seremoni saja?. Tentu jawabannya, tidak. Sebagai seorang muslim, rasa syukur atas kemerdekaan harus diwujudkan dalam bentuk yang lebih mendasar, yaitu membangun masyarakat yang bertakwa, berilmu, dan berakhlak mulia. Salah satu cara untuk mewujudkannya kita perlu memperkuat posisi strategis masjid. Masjid bukan hanya bangunan tempat melaksanakan shalat. Masjid adalah tempat pembentukan manusia. Dari manusia yang baik akan lahir keluarga yang baik, masyarakat yang baik, hingga bangsa yang kuat. Karena itu, jika kita ingin menjaga kemerdekaan bangsa ini, salah satu ikhtiar terpenting adalah memakmurkan masjid, karena masjid adalah benteng umat muslim. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nashaihul Ibad, bahwa Ka’ab Al-Akhbar meriwayatkan;
الْحصُون لِلْمُؤْمِنِينَ مِنَ الشَّيْطَانِ ثَلَاثُ : المَسْجِدُ حِصْنٌ وَذِكْرُ اللَّهِ حِصْنٌ وَقِرَاءَةُ القُرْآنِ حِصْنٌ
Artinya; “Pagar (benteng) bagi orang-orang yang beriman dari godaan setan itu ada tiga, yaitu masjid, zikir kepada Allah dan membaca Alquran.”
Strategisnya masjid sebagai benteng bagi umat muslim ini, maka memakmurkannya menjadi sesuatu yang niscaya untuk menyemai keimanan dan ketakwaan kita agar dapat berkonstribusi bagi kesejahteraan bangsa dan negara. Allah Swt. menegaskan dalam firman-Nya:
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَى أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut kepada siapapun selain Allah. Maka merekalah yang diharapkan termasuk golongan yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah [9]: 18)
Ayat ini tidak dimulai dengan pembahasan tentang bangunan masjid, melainkan tentang orang yang memakmurkannya. Hal ini menunjukkan bahwa kemuliaan sebuah masjid tidak hanya ditentukan oleh megahnya arsitektur atau indahnya ornamen, tetapi oleh kualitas iman orang-orang yang menghidupkannya. Memakmurkan masjid dalam hal ini mencakup shalat berjamaah, zikir, tilawah Al-Qur’an, majelis ilmu, pembinaan generasi muda, pelayanan sosial, serta penguatan ukhuwah di tengah masyarakat.
Dengan demikian, masjid bukan sekadar tempat berkumpul beberapa kali dalam sehari, melainkan pusat pembinaan umat yang melahirkan manusia-manusia beriman dan berakhlak. Dari masjid yang hidup akan lahir masyarakat yang kokoh, dan dari masyarakat yang kokoh akan lahir bangsa yang kuat. Inilah sebabnya mengapa masjid memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga spirit kemerdekaan.
Jamaah shalat Jum’ah rohimakumulloh,
Apabila kita menelusuri sejarah Islam, kita akan menemukan sebuah pelajaran yang sangat berharga. Ketika Rasulullah ﷺ hijrah dari Makkah menuju Madinah, bangunan pertama yang beliau dirikan bukanlah benteng pertahanan, bukan pula pusat perdagangan atau kantor pemerintahan. Yang pertama kali beliau dirikan adalah masjid, yang kini dikenal dengan Masjid Quba. Setelah tiba di Madinah, beliau kembali membangun Masjid Nabawi. Pilihan ini bukanlah tanpa makna. Rasulullah ﷺ ingin menunjukkan bahwa membangun masyarakat harus dimulai dengan membangun manusia, dan membangun manusia dimulai dari masjid.
Masjid Nabawi bukan hanya tempat shalat. Di sanalah Rasulullah ﷺ mendidik para sahabat menjadi pribadi-pribadi yang memiliki iman yang kokoh, ilmu yang luas, akhlak yang mulia, dan kepedulian yang tinggi terhadap sesama. Dari masjid itu lahir Abu Bakar yang penuh kejujuran, Umar yang terkenal dengan keadilannya, Utsman yang dermawan, Ali yang berilmu, serta para sahabat lain yang kemudian membawa cahaya Islam ke berbagai penjuru dunia.
Dengan kata lain, peradaban Islam lahir dari masjid. Masjid menjadi pusat pendidikan, musyawarah, pelayanan sosial, penyelesaian persoalan masyarakat, bahkan tempat merumuskan strategi menghadapi berbagai tantangan umat. Karena itu, ketika masjid hidup, umat pun hidup. Sebaliknya, ketika masjid kehilangan fungsinya sebagai pusat pembinaan, umat akan kehilangan arah.
Jamaah shalat Jum’ah rohimakumulloh,
Prinsip yang sama juga dapat kita lihat dalam perjalanan bangsa Indonesia. Sejarah mencatat bahwa masjid dan pesantren memiliki peran yang sangat penting dalam menumbuhkan semangat cinta tanah air dan mempertahankan kemerdekaan. Dari mimbar-mimbar masjid, para ulama mengajarkan bahwa membela tanah air yang menjadi tempat umat dapat menjalankan agamanya dengan aman adalah bagian dari tanggung jawab yang mulia.
Pada masa perjuangan, masjid menjadi tempat berkumpulnya masyarakat, tempat menguatkan mental dan spiritual, tempat bermusyawarah, sekaligus tempat menumbuhkan keberanian untuk menghadapi berbagai kesulitan. Para santri dan ulama tidak hanya mendidik umat agar tekun beribadah, tetapi juga menanamkan nilai keikhlasan, persatuan, pengorbanan, dan tanggung jawab terhadap bangsa.
Nilai-nilai itulah yang membuat perjuangan kemerdekaan tidak hanya digerakkan oleh semangat kebangsaan, tetapi juga oleh kesadaran keagamaan. Kemerdekaan dipahami sebagai nikmat Allah yang harus diperjuangkan dan dijaga.
Karena itu, ketika kita memasuki bulan Agustus dan bersiap memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita tidak cukup hanya mengenang jasa para pahlawan. Kita juga harus bertanya kepada diri kita masing-masing: Apakah kita telah menjaga warisan perjuangan itu?.
Menjaga kemerdekaan pada masa sekarang tentu berbeda dengan masa penjajahan. Dahulu para pejuang mengangkat bambu runcing dan senjata untuk mengusir penjajah. Hari ini, perjuangan kita adalah melawan kebodohan, kemiskinan, korupsi, penyalahgunaan amanah, penyebaran kebencian, penyalahgunaan teknologi, narkoba, dan berbagai perilaku yang dapat melemahkan bangsa.
Semua tantangan itu tidak dapat diatasi hanya dengan peraturan atau kekuatan hukum. Bangsa ini membutuhkan manusia-manusia yang beriman, jujur, amanah, disiplin, dan peduli terhadap sesama. Dan manusia seperti itulah yang dibentuk oleh masjid. Oleh sebab itu, Allah SWT berfirman:
الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ
“Yaitu orang-orang yang apabila Kami berikan kedudukan di muka bumi, mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan kepada Allahlah kembali segala urusan.” (QS. Al-Hajj [22]: 41)
Ayat ini mengajarkan bahwa ketika Allah memberikan keamanan, kekuasaan, dan kesempatan kepada suatu bangsa, kewajiban pertama yang harus ditegakkan adalah salat, zakat, amar makruf, dan nahi mungkar. Semua ini merupakan nilai-nilai yang tumbuh dan dipelihara melalui masjid. Perlu diketahui juga, masjid juga mengajarkan tentang kesetaraan. Di masjid tidak ada perbedaan kedudukan. Orang kaya berdiri sejajar dengan orang miskin. Pejabat bershaf bersama rakyat. Semua menghadap kiblat yang sama, bersujud kepada Tuhan yang sama. Nilai kesetaraan dan persaudaraan inilah yang harus dibawa keluar dari masjid ke tengah kehidupan bermasyarakat.
Jamaah shalat Jum’ah rohimakumulloh,
Terdapat beberapa pelajaran yang dapat kita serap tentang masjid dan spirit kemerdekaan ini.
- Ketika kita menjaga shalat berjamaah di masjid, kita sedang memperkuat fondasi moral bangsa.
- Ketika kita menghadiri majelis ilmu, kita sedang mencerdaskan umat.
- Ketika kita mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak, kita sedang menyiapkan generasi penerus bangsa.
- Ketika kita bersedekah dan membantu sesama melalui masjid, kita sedang memperkokoh persaudaraan sosial.
- Ketika kita menjaga ukhuwah dan menghindari fitnah serta permusuhan, kita sedang mempertahankan kemerdekaan dari ancaman perpecahan.
Maka, kemerdekaan yang kita nikmati hari ini hendaknya mendorong kita untuk semakin memakmurkan masjid, bukan justru menjauhinya. Sebab masjid yang makmur akan melahirkan masyarakat yang kuat, dan masyarakat yang kuat akan menjadi benteng bagi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Semoga masjid-masjid kita senantiasa menjadi cahaya yang menerangi masyarakat, menjadi tempat lahirnya generasi yang bertaqwa, berilmu, berakhlak mulia, serta mencintai agama dan tanah air. Dengan demikian, kemerdekaan yang diwariskan oleh para pendahulu tidak hanya kita nikmati, tetapi juga kita isi dengan amal saleh dan kita wariskan kepada generasi yang akan datang dalam keadaan lebih baik.
أقول قولي هذا، وأستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ.
عبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ