Berita

KUA Mergangsan Bekali 12 Pasang Catin melalui Bimwin Pranikah

Yogyakarta (KUA Mergangsan) – Kantor Urusan Agama (KUA) Mergangsan menyelenggarakan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) bagi calon pengantin, Selasa (9/6/2026). Kegiatan yang berlangsung di aula KUA Mergangsan ini diikuti 12 pasang calon pengantin yang akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat.

Kepala KUA Mergangsan, Jaenal Sarifudin, S.H.I., M.S.I., dalam sambutannya menyampaikan bahwa bimbingan perkawinan merupakan bekal penting bagi calon pengantin dalam mempersiapkan kehidupan berumah tangga.

“Bimbingan perkawinan diharapkan mampu membantu calon pengantin membangun keluarga yang harmonis, saling menghormati, serta berlandaskan nilai-nilai agama untuk mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah,” ujarnya.

Kegiatan ini bertujuan memberikan pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman yang diperlukan dalam membangun kehidupan rumah tangga yang sehat, harmonis, dan berkualitas. Para peserta tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang berlangsung secara interaktif.

Materi pertama disampaikan oleh Ali Hafidz, S.Pd.I., M.Pd., dengan tema “Psikologi dan Dinamika Keluarga.” Peserta diajak memahami karakter pasangan, pentingnya komunikasi yang efektif, pengelolaan emosi, serta cara menghadapi berbagai dinamika dalam kehidupan rumah tangga.

Materi berikutnya disampaikan oleh M. Okto Vahrezi, S.H., mengenai “Membangun Keluarga Sakinah.” Dalam pemaparannya, narasumber menekankan pentingnya landasan agama, komitmen, serta tanggung jawab suami istri dalam menjaga keharmonisan keluarga.

Selanjutnya, Muchrimah, S.Ag., menyampaikan materi “Mencetak Generasi Berkualitas.” Peserta memperoleh pemahaman tentang peran orang tua dalam pengasuhan anak, pendidikan karakter, serta penanaman nilai-nilai agama sejak dini guna membentuk generasi yang unggul dan berakhlak mulia.

Materi terakhir disampaikan oleh Siti Rokhimah dengan tema “Kesehatan Reproduksi dan Pencegahan Stunting.” Dalam sesi ini, calon pengantin dibekali pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi, pentingnya pemenuhan gizi sejak masa pranikah hingga kehamilan, serta langkah-langkah pencegahan stunting sebagai upaya melahirkan generasi yang sehat dan berkualitas.

Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan mereka dalam mengikuti diskusi dan mengajukan berbagai pertanyaan seputar kehidupan rumah tangga, pola pengasuhan anak, kesehatan reproduksi, hingga strategi membangun keluarga yang harmonis.

Melalui kegiatan ini, para calon pengantin diharapkan memiliki kesiapan yang lebih matang dalam memasuki kehidupan berumah tangga, mampu menghadapi berbagai tantangan keluarga, serta berkomitmen mewujudkan keluarga yang sakinah, sehat, dan sejahtera. Bekal yang diperoleh selama bimbingan diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan keluarga sehingga menjadi fondasi kuat bagi terwujudnya masyarakat yang berkualitas.[dzakiya]