Pengawas Madrasah Kemenag Yogya Perkuat Pendidikan Inklusif Lewat Uji Coba Skrining Disabilitas

Yogyakarta (Kemenag Kota Yogyakarta) – Komitmen Kementerian Agama Kota Yogyakarta dalam menghadirkan layanan pendidikan yang inklusif terus diperkuat. Salah satunya melalui keikutsertaan dua Pengawas Madrasah, Evi Effrisanti dan Ma’ruf Yuniarno, dalam Pelatihan dan Lokakarya Uji Coba Alat Skrining Disabilitas yang diselenggarakan olehCenter for Life-Span Development (CLSD) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan Nossal Institute, University of Melbourne, serta didukung UNICEF, Selasa (23/6/26), di Fakultas Psikologi UGM.
Kehadiran pengawas madrasah Kementerian Agama Kota Yogyakarta dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari kontribusi aktif Kemenag dalam memperkuat implementasi pendidikan inklusif di madrasah. Melalui keterlibatan langsung pada tahap uji coba instrumen, Kemenag Kota Yogyakarta turut memastikan bahwa setiap peserta didik, termasuk anak berkebutuhan khusus, memperoleh layanan pendidikan yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan belajarnya.
Pengawas Madrasah Kemenag Kota Yogyakarta, Ma’ruf Yuniarno, menyampaikan bahwa lokakarya ini merupakan langkah strategis untuk menguji kegunaan (usability) dan keberterimaan (acceptability) instrumen skrining disabilitas dari perspektif para praktisi pendidikan yang akan menggunakannya secara langsung di sekolah maupun madrasah.

“Hasil skrining akan sangat membantu satuan pendidikan dalam menyusun perencanaan pembelajaran yang berdiferensiasi sesuai kebutuhan setiap peserta didik. Dengan demikian, layanan pendidikan dapat diberikan secara lebih tepat sasaran dan benar-benar mengakomodasi keberagaman kemampuan siswa,” ungkap Ma’ruf.
Sebanyak 24 peserta mengikuti kegiatan ini secara aktif. Mereka berasal dari unsur Dinas Pendidikan, Kementerian Agama Kota Yogyakarta dan Kabupaten Gunungkidul, serta perwakilan guru dan kepala sekolah dari jenjang SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/MA di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Gunungkidul.
Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama Fakultas Psikologi UGM, Praditya Putri Pertiwi, S.Psi., Ph.D, menjelaskan bahwa kegiatan dirancang menggunakan pendekatan partisipatif melalui Focus Group Discussion (FGD) dan simulasi penggunaan instrumen skrining. Melalui metode tersebut, peserta berbagi pengalaman, tantangan, sekaligus praktik baik mengenai kesiapan sekolah dalam mengidentifikasi peserta didik berkebutuhan khusus sejak dini.
Adapun instrumen yang diuji coba dalam program ini meliputi Profil Belajar Siswa (PBS), Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP), serta Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ). Ketiga instrumen tersebut diharapkan mampu menjadi perangkat awal yang efektif dalam membantu sekolah mengenali kebutuhan belajar peserta didik secara lebih komprehensif.
Praditya menambahkan, keterlibatan dua kelompok guru, yakni guru yang telah berpengalaman maupun yang belum memiliki pengalaman dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif, memberikan perspektif yang beragam dan kaya bagi tim peneliti. Masukan dari para praktisi pendidikan tersebut menjadi bahan penting dalam penyempurnaan instrumen agar lebih mudah diterapkan di berbagai satuan pendidikan.
Partisipasi Pengawas Madrasah Kementerian Agama Kota Yogyakarta dalam kegiatan ini sekaligus menegaskan komitmen Kemenag untuk terus meningkatkan kapasitas sumber daya pendidikan madrasah dalam mewujudkan layanan pendidikan yang ramah, inklusif, dan berkeadilan. Melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan mitra internasional, diharapkan sistem identifikasi dini peserta didik berkebutuhan khusus semakin kuat, sehingga setiap anak memperoleh kesempatan belajar yang optimal sesuai potensi yang dimilikinya.(Ma’ruf)



