Artikel

Oportunis dalam Kebaikan sebagai Manifestasi dari Jiwa yang Merdeka

Kemerdekaan selalu mengingatkan kita pada perjuangan. Delapan puluh satu tahun lalu, para pendahulu bangsa berjuang membebaskan negeri ini dari penjajahan. Kini, ketika Indonesia telah merdeka, barangkali ada pertanyaan yang juga layak kita ajukan kepada diri sendiri: sudahkah kita merdeka sebagai manusia?

 

Sebab, bisa jadi negeri kita sudah merdeka, tetapi hati kita masih terjajah oleh gengsi, ego, keserakahan, keinginan dipuji, dan kepentingan diri sendiri.

 

Allah berfirman:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۗ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Maka berlomba-lombalah dalam berbagai kebajikan. Di mana pun kamu berada, Allah pasti akan mengumpulkan kamu semuanya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

(QS. Al-Baqarah: 148)

 

Ada satu kata yang menarik dalam ayat ini: فَاسْتَبِقُوا (fastabiqu) berlomba-lombalah. Seakan Al-Qur’an mengingatkan kita agar jangan terlalu lambat ketika berhadapan dengan kebaikan. Kalau ada kesempatan menolong, jangan ditunda. Kalau ada kesempatan berbagi, jangan menunggu kaya. Kalau ada kesempatan meminta maaf dan memaafkan, jangan menunggu hati menjadi sempurna.

 

  1. Quraish Shihab menjelaskan bahwa perintah “fastabiqul khairat” bukanlah perlombaan untuk mengalahkan orang lain. Kebaikan memiliki ruang yang sangat luas. Kita tidak perlu menjatuhkan siapa pun untuk menjadi orang baik. Yang penting adalah berlomba menjadi lebih baik dalam ruang yang Allah berikan kepada kita.

 

Karena itu, sesungguhnya tidak salah menjadi “oportunis”, selama oportunisnya dalam kebaikan. Biasanya oportunis berarti orang yang pandai mencari keuntungan dari setiap keadaan. Tetapi alangkah indahnya jika seorang Muslim justru pandai mencari kesempatan untuk berbuat baik. Melihat orang kesulitan, tangannya tergerak. Melihat kesempatan membantu, ia hadir. Menemukan ruang untuk mengabdi, ia tidak banyak menghitung untung-rugi.

 

Ia tidak selalu bertanya, “Apa yang saya dapat?” tetapi lebih sering bertanya, “Apa yang bisa saya berikan?”

 

Barangkali di situlah letak kemerdekaan jiwa.

 

Jiwa yang merdeka tidak hidup untuk tepuk tangan manusia. Ia tidak harus dilihat untuk berbuat baik. Ia tidak berhenti berbuat hanya karena tidak mendapatkan penghargaan. Sebab ia tahu, ada Allah yang melihat sesuatu yang sering tidak dilihat manusia.

 

Di usia Indonesia yang ke-81 ini, kita pun perlu mengisi kemerdekaan dengan cara yang sederhana tetapi nyata. Menjadi orang jujur di tengah godaan untuk curang. Menjadi orang yang peduli ketika banyak orang memilih acuh. Bekerja dengan amanah. Menolong tanpa banyak bicara. Mendidik dengan sungguh-sungguh. Menjaga lingkungan. Dan memberikan manfaat, sekecil apa pun.

 

Para pahlawan dahulu berjuang agar kita tidak hidup sebagai bangsa yang terjajah. Tugas kita hari ini adalah memastikan bahwa kemerdekaan itu tidak kehilangan makna karena kita justru menjadi hamba dari ego dan kepentingan diri sendiri.

 

Maka, mari menjadi oportunis dalam kebaikan. Ketika pintu kebaikan terbuka, masuklah. Ketika ada kesempatan memberi manfaat, jangan terlalu lama berpikir. Sebab kita tidak pernah tahu, kebaikan kecil mana yang kelak menjadi alasan Allah menyelamatkan kita. Wallahu a’lam

 

Penulis: Hilman Abdullah, S.Hum. (Guru MAN 1 Yogyakarta)

Leave a Reply