Mendengar, Menenangkan, Menguatkan

Yogyakarta (Garakat) — Di tengah suasana rumah sakit yang penuh kecemasan dan ketidakpastian, terkadang yang paling dibutuhkan bukan sekadar nasihat, melainkan seseorang yang bersedia hadir, mendengar, dan menemani. Kehadiran Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta, Edelbertus Jara, S.Fil., menjadi ruang teduh bagi pasien dan keluarga yang sedang menjalani masa sulit.
Jumat (18/9/2026), Edelbertus melaksanakan bimbingan rohani profesional (chaplain) bagi pasien Katolik yang menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wirosaban Kota Yogyakarta.
Sebanyak lima pasien dengan kondisi dan penyakit yang berbeda dikunjungi dan didampingi di sejumlah bangsal. Dalam pendampingan tersebut, Edelbertus tidak hadir untuk menghakimi ataupun sekadar memberikan nasihat moral. Ia memilih menjadi pendengar aktif, memberikan ruang bagi pasien maupun keluarga untuk mengungkapkan pengalaman, kegelisahan, harapan, hingga berbagai hal yang mereka rasakan selama proses pengobatan.
“Kadang mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan,” demikian semangat pendampingan yang dilakukan Edelbertus.
Pendampingan rohani di rumah sakit menjadi lebih dari sekadar percakapan keagamaan. Kehadiran chaplain membantu pasien menemukan ruang untuk berbicara tentang pengalaman hidup dan pergulatan batin yang muncul ketika seseorang berada dalam kondisi rentan.
Dengan penuh perhatian, Edelbertus mendengarkan setiap cerita yang disampaikan pasien maupun keluarga. Tidak terburu-buru memberikan jawaban, ia menghadirkan suasana yang membuat mereka merasa diterima dan tidak sendirian dalam menghadapi proses yang sedang dijalani.
Pendampingan kemudian ditutup dengan doa bersama, menjadi momen untuk meneguhkan harapan dan menghadirkan ketenangan batin bagi pasien maupun keluarga.
Melalui pelayanan tersebut, Penyuluh Agama Katolik Kankemenag Kota Yogyakarta menunjukkan bahwa pelayanan berdampak tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar. Terkadang, sebuah telinga yang mau mendengar dan hati yang mau menemani sudah cukup untuk membuat seseorang merasa lebih kuat.
Kehadiran di tengah mereka yang sedang sakit menjadi wujud nyata pelayanan keagamaan yang menyentuh sisi kemanusiaan: mendengar dengan empati, mendampingi dengan ketulusan, dan menguatkan dengan doa. (ej)



