Memayu Hayuning Buana Lumantar Moderasi Beragama, Penyuluh Umbulharjo Hadir Menebar Paseduluran di Lapas Wirogunan

Yogyakarta –Rabu 2-09-2026 Semangat memayu hayuning buana, menjaga dan memperindah kehidupan agar tetap harmonis dan penuh kedamaian, terus diwujudkan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Umbulharjo melalui penguatan moderasi beragama.
Bertempat di Aula Masjid Al Fajar Lapas Wirogunan, Penyuluh Agama Islam Umbulharjo memberikan pengajian dan pembinaan keagamaan bagi warga binaan Lapas Wirogunan. Kegiatan ini menjadi ruang untuk menumbuhkan kesadaran bahwa agama hadir bukan untuk memecah, tetapi untuk menuntun manusia menuju kehidupan yang damai, santun, dan penuh kasih sayang.
Materi disampaikan oleh H. Khaerudin, S.Ag., yang mengajak para jamaah untuk memahami moderasi beragama sebagai jalan tengah dalam menjalankan kehidupan beragama. Moderasi bukan berarti mengurangi keyakinan, tetapi menghadirkan sikap yang adil, seimbang, menghargai perbedaan, serta mengedepankan akhlak dalam berinteraksi dengan sesama.
Dalam perspektif filosofi Jawa, kehidupan yang baik adalah ketika manusia mampu “memayu hayuning buana”—ikut menjaga ketenteraman, memperbaiki diri, dan memberikan manfaat bagi lingkungan. Seberat apa pun perjalanan masa lalu, selalu ada kesempatan untuk menata kembali langkah menuju kehidupan yang lebih baik.
Pengajian di Lapas Wirogunan tersebut diharapkan menjadi bagian dari proses ngudi kasampurnan, yaitu ikhtiar memperbaiki diri secara lahir dan batin. Masjid bukan sekadar tempat beribadah, tetapi juga menjadi ruang untuk menumbuhkan harapan, menyemai ketenangan hati, serta membangun kembali semangat menjadi pribadi yang lebih baik.
Melalui kegiatan pembinaan ini, Penyuluh Umbulharjo terus berupaya menghadirkan dakwah yang menyejukkan, membimbing, dan memberi dampak nyata, sehingga nilai-nilai agama dapat menjadi cahaya bagi setiap insan dalam menapaki jalan kehidupan.
“Agama menuntun kita untuk menjadi manusia yang baik; moderasi mengajarkan bagaimana kebaikan itu diwujudkan dengan damai, adil, dan penuh paseduluran.”[khair]



