Berita

16 Kepala, 1 Strategi: Mengintip Keseruan Lomba Pion Catur Hidup MPS Cup MAN 1 Yogyakarta

Yogyakarta (MAN 1 Yogya) — Suasana MAN 1 Yogyakarta pada hari Jum’at (28/08/26) terasa sangat berbeda dan penuh energi. Bersamaan dengan momentum pesta demokrasi pemilihan ketua OSIS, MAN 1 Yogyakarta juga sukses menggelar ajang kreativitas yang paling dinanti-nantikan, yaitu MPS CUP.

 

Dari berbagai kompetisi yang diadakan, ada satu lomba yang paling berhasil mencuri perhatian seluruh warga madrasah, yaitu Lomba Catur. Bukan sekadar catur biasa di atas papan kayu kecil, lomba catur kali ini mengusung konsep yang sangat unik dan interaktif. Setiap kelas ditantang untuk mengirimkan 17 delegasi terbaiknya. Keunikannya terletak pada pembagian peran, di mana 16 murid terjun langsung ke lapangan menjadi bidak catur hidup, sementara 1 orang bertindak sebagai penggerak atau otak di balik strategi permainan.

 

Kepala MAN 1 Yogyakarta Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd., mengapresiasi konsep lomba catur hidup yang dinilai mampu menghadirkan pengalaman berbeda bagi murid. Menurutnya, permainan tersebut tidak hanya mengandalkan strategi, tetapi juga membutuhkan komunikasi, disiplin, dan kepercayaan dalam satu tim.

“Menarik karena setiap murid punya peran masing-masing. Ada yang menyusun strategi dan ada yang menjalankan instruksi. Dari permainan seperti ini, mereka belajar untuk saling percaya, disiplin mengikuti aturan, dan bekerja sebagai satu tim,” ujarnya.

Pertandingan yang menggunakan sistem gugur (single elimination) ini berlangsung sengit di atas papan catur berukuran raksasa. Aturan ketat standar internasional tetap diberlakukan untuk menjaga sportivitas. Para murid yang menjadi bidak wajib berdiri di posisi awal mereka dan hanya boleh melangkah setelah mendapatkan instruksi lisan dari sang penggerak kelas mereka.

“Seru sekaligus menegangkan! Sebagai bidak, kami benar-benar dilarang berbicara atau memberikan saran strategi kepada penggerak. Jadi kami harus pasrah dan percaya penuh pada instruksi penggerak kami,” ujar salah satu murid bernama Putri Aqeela dari kelas XIB yang menjadi peserta lomba.

 

Sesuai aturan teknis, penggerak menjadi satu-satunya komandan yang menentukan arah permainan lewat instruksi suara. Mereka dilarang keras menyentuh bidak secara langsung ataupun memasuki area papan raksasa tanpa izin dari panitia. Atmosfer ketegangan semakin memuncak setiap kali ada bidak yang berhasil dimakan oleh tim lawan, karena murid yang bersangkutan harus segera berjalan meninggalkan arena pertandingan diiringi gemuruh sorak penonton.

 

Perpaduan antara adu strategi dari penggerak dan disiplin dari para murid yang menjadi bidak membuat lomba catur MPS CUP tahun ini menjadi salah satu inovasi paling menghibur. Acara ini tidak hanya menguji ketajaman berpikir, tetapi juga mempererat kekompakan dan rasa percaya antarmurid di setiap kelas. (lik)

Leave a Reply