Sangkan Paraning Dumadi: Menata Jalan Pulang

Yogyakarta (KUA Umbulharjo) — Ada sebuah filosofi Jawa yang sangat dalam, sangkan paraning dumadi, sebuah kesadaran bahwa manusia berasal dari Allah SWT dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya. Kesadaran inilah yang menjadi ruh dalam kegiatan bimbingan Al-Qur’an oleh Penyuluh Agama Islam KUA Umbulharjo, H. Khaerudin, S.Ag., kepada warga binaan di Masjid At-Taqwa Rutan Wirogunan, Yogyakarta, Senin (31/8/2026).
Di balik tembok Rutan, kehidupan tetap berjalan dan harapan tidak pernah boleh padam. Masa lalu memang tidak dapat diubah, tetapi masa depan masih dapat ditata. Karena itu, bimbingan Al-Qur’an menjadi salah satu ikhtiar untuk membuka kembali ruang kesadaran bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, mendekat kepada Allah SWT, dan mengisi perjalanan hidup dengan kebaikan.
Al-Qur’an tidak hanya diajarkan sebagai bacaan, tetapi juga sebagai petunjuk kehidupan. Dari ayat-ayat yang dibaca dan dipahami, diharapkan tumbuh kesadaran untuk memperbaiki hati, memperbaiki perilaku, memperkuat ibadah, serta membangun kehidupan yang lebih bermanfaat bagi sesama.
Dalam filosofi Jawa, ungkapan “urip iku mung mampir ngombe” mengingatkan bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara. Maka, yang terpenting bukan sekadar berapa lama seseorang hidup, tetapi apa yang dilakukan selama hidup dan dengan bekal apa seseorang kembali menghadap Sang Pencipta.
H. Khaerudin mengajak warga binaan untuk tidak menjadikan masa lalu sebagai alasan untuk berhenti berharap. Sebaliknya, masa lalu dapat menjadi guru untuk melangkah lebih baik. Setiap kesalahan dapat menjadi pintu taubat, setiap penyesalan dapat menjadi awal perubahan, dan setiap kebaikan yang dilakukan dapat menjadi bekal menuju kehidupan yang lebih bermakna.
Bimbingan Al-Qur’an di Masjid At-Taqwa tersebut menjadi pengingat bahwa pintu rahmat Allah SWT selalu terbuka bagi hamba yang sungguh-sungguh ingin kembali kepada-Nya. Dari tempat yang mungkin dipandang sebagai ruang pembatasan, justru dapat tumbuh kebebasan yang lebih hakiki, yaitu kebebasan hati dari kesalahan, kebencian, dan keputusasaan menuju hati yang lebih dekat kepada Allah SWT.
Harapannya, warga binaan mampu menjadikan Al-Qur’an sebagai teman dalam perjalanan perubahan diri. Bukan hanya mampu membaca dengan baik, tetapi juga memahami pesan-pesannya, mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, serta setelah kembali ke tengah masyarakat mampu menjadi pribadi yang lebih baik dan memberi manfaat bagi keluarga, lingkungan, dan sesama.
Sebab pada akhirnya, sangkan paraning dumadi bukan sekadar memahami dari mana manusia berasal dan ke mana akan kembali. Ia adalah kesadaran untuk menata perjalanan pulang. Semakin dekat seseorang kepada Allah SWT, semakin baik akhlaknya, semakin besar manfaatnya bagi sesama, dan semakin siap ia menyambut akhir perjalanan dengan harapan memperoleh husnulkhatimah.
Dari Masjid At-Taqwa Rutan Wirogunan, cahaya Al-Qur’an terus dihidupkan. Sebab setiap hati masih memiliki kesempatan untuk kembali, setiap langkah masih bisa diperbaiki, dan setiap manusia masih memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik sebelum tiba waktunya menghadap Allah SWT.[khaer]



