Berita

Kepala Kantor Membuka Sosialisasi Kurikulum Berbasis Cinta Bagi Guru Agama Katolik

Yogyakarta (Humas) – Kantor Kemenag Kota Yogyakarta melalui Penyelenggara Katolik menyelenggarakan  kegiatan Sosialisasi Kurikulum Berbasis Cinta untuk Guru Pendidikan Agama Katolik Kota Yogyakarta pada Rabu, 3/6/2026 di Aula 1.

Penyelenggara Katolik Veronika Tatik Trijatiningsih, SIP, M.Sc menyampaikan bahwa kegiatan ini diikuti oleh guru pendidikan agama katolik se Kota Yogyakarta dari jenjang SD, SMP dan SMK. Hadir sebagai narasumber adalah Pembimas Katolik DIY, Kristoforus Sinselius, S.S dan Guru SMA Negeri 9 Yohanes Basuki Rahmat.

Dalam kesempatan tersebut Kepala Kankemenag Kota Yogyakarta H. Ahmad Shidqi, S.Psi.,MEng menyampaikan bahwa tugas guru agama berbeda dengan guru umum karena perannya menjadi kunci keberhasilan dalam mencetak budi pekerti anak sebagai generasi bangsa.

Ahmad Shidqi menekankan bahwa saat ini Kemenag mendukung program asta cita Presiden dengan mengimplementasikannya dalam asta protas. Dalam asta protas teesebut terdapat bagian pendidikan agama. Disisi lain seluruh agama yang ada di indonesia menjadi tanggung jawab Kemenag.

Oleh karena itu Kurikulum Berbasis Cinta yang disampaikan dalam kegiatan ini mengandung nilai kecintaan yang meliputu cinta tuhan, cinta diri dan manusia, cinta ilmu pengetahuan, cinta lingkungan, dan cinta tanah air, ujar Ahmad Shidqi.

Indonesia dengan segala keragaman agama menjadi pedoman patokan untuk menjaga keharmonisan. Sebagai guru agama kita berkewajiban mendidik anak dengan seutuhnya, karena semua agama mengajarkan kedamaian dan kebaikan, tambah beliau.

Disisi yang lain adanya program Ekoteologi menjadi salah satu aspek yg ada di kurikulum cinta. Hal ini sejalan dengan salah satu program Pemkot Jogja yaitu “mas jos” khususnya dalam pengolahan sampah.

Sementara itu juga toleransi di indonesia sampai saat ini berlangsung sangat baik, hal ini menjadi tanggung jawab kita untuk merawat dan mempertahankann keharmonisan serta toleransi di negeri ini, hal ini juga tidak bisa lepas dari peran para guru agama.

Pembimas Katolik DIY selaku narasumber menyampaikan bahwa sebenarnya kita sudah mengimplementasi kurikulum cinta dalam kegiatan kita sehari hari. Tinggal kita padukan dengan panduan dan pedoman yang mendasarkan pada kurikulum cinta tersebut. Tanggung jawab moral dan iman ini ada di tangan kita sebagai guru agama dalam mengajarkan kurikulum cinta. (am)

Leave a Reply