Artikel

Bedah Kitab Al-Adzkar Penghulu Mantrijeron Tekankan Moderasi Beragama

YOGYAKARTA – Masjid Jendral Sudirman Demangan, Yogyakarta, kembali menyelenggarakan Kajian Rutin Jumat Malam pada Jumat (19/6/2026). Kajian yang berlangsung khidmat sejak selepas Maghrib hingga menjelang Isya ini membedah Bab Salam dalam Kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi. Acara ini dihadiri oleh jamaah binaan secara langsung (offline) serta diikuti masyarakat luas melalui live streaming di kanal YouTube MuinKaFiTV dan akun resmi masjid.

Kajian ini bertujuan mengaktualisasikan misi Moderasi Beragama di kehidupan sehari-hari, sekaligus mengimplementasikan Keputusan Dirjen Bimas Islam Nomor 615 Tahun 2024. Regulasi tersebut menginstruksikan para penghulu dan penyuluh agar setiap kajian keagamaan mampu mencerminkan nilai Islam rahmatan lil alamin, menjunjung tinggi toleransi, serta menumbuhkan semangat persatuan tanah air.

Hadir sebagai narasumber, Mu’inan, S.H.I., M.S.I., yang merupakan Penghulu KUA Mantrijeron, Yogyakarta. Ia menegaskan bahwa etika bersalam merupakan cetak biru (blueprint) dari tata krama sosial Islam yang berbasis kedamaian. Berdasarkan Kitab Al-Adzkar, Mu’inan menjabarkan tiga poin utama etika salam dalam bingkai moderasi beragama:

Mengucapkan Salam (Menebar Rasa Aman): Bersifat universal tanpa pilih kasih—baik kepada yang dikenal maupun tidak—sebagai latihan mental untuk meruntuhkan sekat sosial dan menghilangkan kecurigaan.

Menjawab Salam (Prinsip Keadilan): Kewajiban membalas sapaan dengan yang setara atau lebih baik, mendidik masyarakat untuk memiliki mentalitas resiproksitas positif.

Kontekstualisasi Kontemporer (Menyikapi Keragaman): Dalam masyarakat majemuk, seorang yang bermoderat tidak akan mempertentangkan salam syariat (Assalamualaikum) dengan salam budaya atau nasional (Selamat Pagi, Kula Nuwun). Salam syariat tetap menjadi identitas doa utama, sedangkan salam budaya diapresiasi sebagai penghormatan lokal (‘urf) yang memperkuat persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wataniyah).

Melalui kajian ini, narasumber berharap seluruh jamaah binaan tidak hanya menyerap ilmu secara teoretis, melainkan mampu merefleksikan kesalehan sosial. Dengan demikian, umat Islam tidak menjadi kelompok yang eksklusif dan kaku, melainkan menjadi pribadi yang inklusif, adil, dan selalu menjadi sumber kedamaian di tengah keberagaman Indonesia.(muin)

Leave a Reply