SiSaPa Pimpinan Kankemenag Kota Yogyakarta Dorong ASN Berani Keluar dari Zona Nyaman

Yogyakarta (Humas) – Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kota Yogyakarta kembali menggelar Siaran Sapa Pagi (SiSaPa) Pimpinan pada Kamis, 27 Agustus 2026. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting tersebut diikuti oleh 147 partisipan ASN di lingkungan Kankemenag Kota Yogyakarta. Kegiatan dipandu oleh Host Zahara Emilya Girsang, S.Ag. Operator Abdul Hamid, S.Kom, Niken Dyan Kusumastuti,S.Kom, Dwiki Kurniawan,S.Kom., Naufal Rafif Danutirta, S.Kom.
Mengusung tema “Dari Zona Nyaman ke Zona Bertumbuh: ASN Harus Berani Berubah”, SiSaPa Pimpinan menjadi ruang komunikasi, refleksi, sekaligus penguatan motivasi bagi ASN agar memiliki keberanian untuk beradaptasi, meningkatkan kompetensi, dan menghadapi perubahan dalam pelaksanaan tugas serta pelayanan kepada masyarakat.
Kepala Kankemenag Kota Yogyakarta, H. Ahmad Shidqi, S.Psi., M.Eng., hadir sebagai narasumber utama dan menyampaikan materi secara panel bersama Kasubbag Tata Usaha H. Ahmad Mustafid, S.Ag., M.Hum., serta jajaran kepala seksi dan penyelenggara.
Jajaran pejabat yang turut hadir dalam sesi panel tersebut antara lain Kasi Bimas Islam H. Moh. Tahrir, S.E., M.M.; Kasi Pendidikan Madrasah (Pendma) Hj. Elfa Tsurooya, S.Pd., M.Pd., M.Pd.I.; Kasi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) H. Saeful Anwar, S.Ag., M.S.I.; Penyelenggara Zakat dan Wakaf (Zawa) Ali Shofa, S.Pd.I.; serta Penyelenggara Katolik V. Tatik Trijati Ningsih, S.I.P., M.Sc.
Dalam arahannya, Ahmad Shidqi menekankan bahwa perubahan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dinamika organisasi dan tuntutan pelayanan publik. ASN perlu memiliki kesiapan untuk meninggalkan pola kerja yang hanya berorientasi pada kebiasaan dan mulai membangun budaya kerja yang adaptif, inovatif, serta berorientasi pada hasil.
“Keluar dari zona nyaman bukan berarti meninggalkan hal-hal yang sudah baik, tetapi berani belajar dan mencoba sesuatu yang lebih baik. ASN harus terus bertumbuh karena tuntutan masyarakat dan lingkungan kerja juga terus berubah,” pesan Ahmad Shidqi.
Ahmad Shidqi juga memaparkan sejumlah ciri ASN yang berani keluar dari zona nyaman. Pertama, memiliki kemauan untuk terus belajar dan meningkatkan kompetensi. ASN yang bertumbuh tidak merasa cukup dengan kemampuan yang telah dimiliki, tetapi selalu terbuka terhadap pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman baru.
Kedua, berani menghadapi tantangan. Menurutnya, tantangan dalam pekerjaan tidak seharusnya dihindari, tetapi dihadapi sebagai kesempatan untuk mengembangkan kapasitas dan menemukan solusi yang lebih baik.
Ketiga, terbuka terhadap kritik dan evaluasi. ASN yang mau bertumbuh mampu menerima masukan secara positif dan menjadikannya sebagai bahan perbaikan dalam melaksanakan tugas.
Keempat, adaptif terhadap perubahan. Perkembangan teknologi, regulasi, tuntutan masyarakat, dan dinamika organisasi menuntut ASN untuk mampu menyesuaikan diri tanpa kehilangan prinsip dan integritas dalam menjalankan tugas.
Kelima, berani berinovasi dan mencoba cara baru. ASN tidak hanya menjalankan rutinitas, tetapi mampu melihat peluang untuk menciptakan metode kerja yang lebih efektif, efisien, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Keenam, memiliki orientasi pada hasil dan pelayanan. Keberanian keluar dari zona nyaman pada akhirnya harus bermuara pada peningkatan kualitas kinerja dan pelayanan publik. Karena itu, perubahan pola pikir dan cara kerja harus dapat dirasakan manfaatnya oleh organisasi maupun masyarakat.

Menurut Ahmad Shidqi, zona nyaman sering kali membuat seseorang merasa aman dengan kondisi yang ada sehingga kurang terdorong untuk melakukan pengembangan diri. Karena itu, ASN perlu membangun keberanian untuk menghadapi tantangan, menerima evaluasi, dan menjadikan pengalaman sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Perpindahan dari zona nyaman menuju zona bertumbuh membutuhkan kemauan untuk terus belajar, beradaptasi, berinovasi, serta terbuka terhadap perubahan. Setiap ASN diharapkan mampu melihat perubahan bukan sebagai beban, melainkan sebagai peluang untuk meningkatkan kapasitas diri sekaligus memberikan kontribusi yang lebih besar bagi organisasi.
Sementara itu, kehadiran jajaran kepala seksi dan penyelenggara dalam forum panel memberikan perspektif yang lebih luas terkait tantangan pelaksanaan tugas di masing-masing bidang. Dialog tersebut menjadi bagian dari upaya menyatukan pemahaman dan memperkuat sinergi antarunit kerja.
Melalui SiSaPa Pimpinan, Kankemenag Kota Yogyakarta terus membangun komunikasi internal yang terbuka antara pimpinan dan ASN. Forum ini tidak hanya menjadi sarana penyampaian arahan, tetapi juga menjadi ruang refleksi untuk memperkuat budaya kerja, membangun semangat kolaborasi, dan mendorong ASN agar terus berkembang.
Dengan semangat “Dari Zona Nyaman ke Zona Bertumbuh”, seluruh ASN Kankemenag Kota Yogyakarta diajak untuk berani berubah, berani belajar, dan berani berinovasi. Perubahan tersebut diharapkan bermuara pada peningkatan profesionalisme ASN serta terwujudnya pelayanan Kementerian Agama yang semakin responsif, berkualitas, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. [Ara]


