Berita

Penyuluh Lintas Iman Kuatkan Gerakan Peduli Lingkungan di Pakualaman

Yogyakarta, (Kemenag Yogyakarta)— Kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari penguatan nilai keagamaan yang terus didorong Penyuluh Agama Kementerian Agama Kota Yogyakarta di tengah masyarakat. Melalui kolaborasi lintas iman bersama Kemantren Pakualaman, para penyuluh agama mengambil bagian dalam kerja bakti membersihkan lingkungan sepanjang Jalan Gajah Mada, Kecamatan Pakualaman, Jumat (2/10/2026).

Kegiatan tersebut diikuti Penyuluh Agama Islam KUA Pakualaman dan Penyuluh Agama Kristen Kementerian Agama Kota Yogyakarta yang bertugas di Kemantren Pakualaman, bersama ASN Kemantren Pakualaman, Tata Pemerintahan Kota Yogyakarta, serta jajaran Kelurahan Purwokinanti dan unsur kelurahan lainnya.

Bagi para penyuluh agama, keterlibatan dalam kerja bakti tidak berhenti pada aktivitas membersihkan lingkungan. Kehadiran penyuluh menjadi bagian dari upaya menghadirkan pesan-pesan keagamaan melalui tindakan nyata, sekaligus membangun kesadaran masyarakat bahwa menjaga kebersihan merupakan tanggung jawab bersama.

Kolaborasi antara penyuluh lintas iman juga menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan nilai bersama yang dapat mempertemukan berbagai komunitas keagamaan. Penyuluh Agama Islam dan Kristen bersinergi dalam ruang pengabdian yang sama, membangun keteladanan bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk bersama-sama merawat lingkungan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari keterlibatan rutin para penyuluh agama di wilayah Kemantren Pakualaman. Dengan berada dan berinteraksi langsung bersama unsur pemerintahan serta masyarakat, penyuluh memiliki ruang untuk menjalankan fungsi penyuluhan secara lebih kontekstual, termasuk menguatkan kesadaran keagamaan yang diwujudkan melalui kepedulian sosial dan lingkungan.

Semangat tersebut sejalan dengan penguatan ekoteologi yang dikembangkan Kementerian Agama, yakni menempatkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan manusia. Lingkungan tidak hanya dipandang sebagai ruang hidup yang perlu dijaga kebersihannya, tetapi juga sebagai amanah yang harus dirawat dan dilestarikan.

Para penyuluh berharap kesadaran menjaga kebersihan tidak berhenti pada kegiatan kerja bakti, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan yang dimulai dari lingkungan terkecil. Keluarga menjadi ruang pertama untuk membangun budaya bersih, kemudian berkembang ke lingkungan tempat tinggal dan wilayah masyarakat secara lebih luas.

“Menjaga kebersihan merupakan bentuk tanda syukur. Karena itu, kebiasaan tersebut perlu dimulai dari lingkungan terkecil, dari keluarga dan lingkungan tempat kita tinggal,” demikian semangat yang dibawa para penyuluh dalam keterlibatan mereka pada kegiatan tersebut.

Melalui sinergi penyuluh lintas iman dengan Kemantren Pakualaman dan unsur pemerintahan wilayah lainnya, kepedulian lingkungan diharapkan tidak hanya mendukung program Masjos, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan bersama membangun lingkungan yang bersih, sehat, nyaman, dan berkelanjutan.

Kehadiran penyuluh agama di tengah gerakan tersebut menegaskan bahwa layanan penyuluhan tidak hanya berlangsung melalui penyampaian materi keagamaan, tetapi juga melalui aksi nyata. Nilai agama diterjemahkan menjadi kepedulian, kolaborasi, dan kontribusi langsung bagi kehidupan masyarakat dan kelestarian lingkungan.(Oka)

Leave a Reply