Berita

Penyuluh KUA Mergangsan TADABUR Isra’ Mi’raj di Masjid Prawirotaman Brontokusuman

Yogyakarta— Penyuluh Agama Islam KUA Kemantren Mergangsan, Hari Purnomo, S.Pd., melaksanakan kegiatan TADABUR (Tausyiah dan Doa Ba’da Dhuhur) di Masjid Prawirotaman, Brontokusuman, Kamis (15/1/2026).

Kegiatan TADABUR ini merupakan kerja sama antara KUA Mergangsan dan Takmir Masjid Prawirotaman, yang bertujuan untuk menyegarkan keimanan dan menyuburkan amal shalih di tengah aktivitas keseharian jamaah.

TADABUR dilaksanakan setelah shalat Dhuhur berjamaah. Pada kesempatan tersebut, penyuluh menyampaikan tausyiah bertema hikmah peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ, bertepatan dengan 26 Rajab 1447 H.

Jamaah diajak untuk tidak sekadar memaknai Isra’ Mi’raj sebagai peristiwa sejarah, tetapi sebagai panggilan langsung dari Allah Subhanahu Wa Ta ‘alaa agar umat Islam menjaga shalat lima waktu.

Dalam pemaparannya, penyuluh menjelaskan bahwa sebelum Isra’ Mi’raj, Rasulullah ﷺ mengalami pembelahan dada sebagai bentuk pembersihan dan persiapan hati.

Hal ini mengandung pesan bahwa shalat yang khusyuk berawal dari hati yang bersih, sehingga menjaga kebersihan hati menjadi bagian penting dari ibadah.

Selanjutnya, jamaah diajak merenungi peristiwa Isra’ di Masjidil Aqsa, saat Rasulullah ﷺ mengimami para nabi. Peristiwa ini menegaskan kedudukan Nabi Muhammad ﷺ sebagai imam seluruh nabi, sekaligus menunjukkan bahwa shalat merupakan ibadah lintas generasi yang diwariskan para nabi.

Puncak peristiwa Isra’ Mi’raj adalah saat shalat diwajibkan langsung oleh Allah Subhanahu Wa Ta ‘alaa di Sidratul Muntaha.

Penyuluh menekankan bahwa shalat adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan secara langsung tanpa perantara, sebagai bukti agungnya kedudukan shalat dalam Islam.

Selain itu, jamaah juga diingatkan dengan penuh hikmah tentang gambaran balasan bagi orang yang melalaikan shalat.

Penyuluh menegaskan bahwa peringatan tersebut bukan karena murka Allah, melainkan sebagai bentuk kasih sayang Allah agar hamba-Nya tidak terjerumus dalam kelalaian dan senantiasa menjaga shalat sepanjang hayat.

Menutup tausyiah, penyuluh mengajak jamaah untuk menjadikan shalat sebagai penjaga kehidupan, dengan melaksanakannya tepat waktu, berjamaah, dan dengan hati yang hadir.

Kegiatan TADABUR kemudian ditutup dengan doa, memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta ‘alaa agar seluruh jamaah diberikan kekuatan, keistiqamahan, dan semangat dalam melaksanakan ketaatan, khususnya menjaga shalat berjamaah.

Melalui program TADABUR ini, KUA Mergangsan terus berupaya menghadirkan dakwah yang menyejukkan, dan menyentuh hati, sehingga nilai-nilai Islam dapat diamalkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.(HP)