Penyuluh KUA Mergangsan Ajak Jamaah Kembali kepada Allah

Yogyakarta (KUA Mergangsan) — Kegelisahan dan naik-turunnya semangat beribadah merupakan bagian dari dinamika kehidupan manusia. Persoalan tersebut menjadi perhatian Penyuluh Agama Islam KUA Kemantren Mergangsan, Hari Purnomo, S.Pd., dalam memberikan layanan bimbingan keagamaan kepada masyarakat melalui kegiatan TADABBUR (Tausyiah dan Doa Ba’da Dhuhur) di Masjid Prawirotaman, Brontokusuman, Kemantren Mergangsan, Kamis (1/10/2026).
Dalam kegiatan yang diikuti jamaah seusai salat Dhuhur berjamaah tersebut, Hari yang sekaligus bertindak sebagai imam mengangkat tema “Hati yang Tidak Tenang”. Materi kepenyuluhan diarahkan pada persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni bagaimana seorang muslim menyikapi kegelisahan, perubahan semangat beribadah, dan kondisi hati yang tidak selalu berada dalam keadaan yang sama.
Untuk memperkuat pesan tersebut, Hari mengajak jamaah mengambil pelajaran dari kisah Hanzhalah al-Usayyidi radhiyallahu ‘anhu, sahabat Rasulullah ﷺ yang pernah merasa khawatir terhadap perubahan kondisi keimanannya. Saat bersama Rasulullah ﷺ, ia merasakan keimanan yang kuat, namun ketika kembali kepada keluarga dan menjalani aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut berubah.
Menanggapi kegelisahan Hanzhalah, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa kondisi manusia memang mengalami pasang surut. Menurut Hari, pesan tersebut mengajarkan bahwa perubahan semangat beribadah merupakan bagian dari dinamika manusia. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang menyikapinya dengan tidak berputus asa dan terus berusaha kembali mendekat kepada Allah.
“Ketika hati sedang tidak tenang, jangan justru menjauh dari Allah. Jadikan kegelisahan itu sebagai kesempatan untuk kembali mendekat, memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, menjaga salat, dan melakukan muhasabah,” pesannya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi bagian dari pendekatan kepenyuluhan yang dilakukan Hari dalam mendampingi masyarakat. Menurutnya, penyuluhan agama tidak hanya berkaitan dengan penyampaian pengetahuan keagamaan, tetapi juga bagaimana nilai-nilai agama dapat menjadi bekal masyarakat dalam menghadapi persoalan kehidupan.
Melalui layanan kepenyuluhan yang dilakukan secara rutin dan dekat dengan komunitas masjid, KUA Kemantren Mergangsan berupaya menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk memperoleh penguatan spiritual sekaligus refleksi keagamaan. Materi yang disampaikan diarahkan agar jamaah tidak hanya memahami ajaran agama, tetapi juga mampu menerapkannya dalam menghadapi persoalan sehari-hari.
Kegiatan tersebut juga memperkuat sinergi penyuluh dengan takmir masjid dan jamaah dalam menghadirkan pembinaan keagamaan di tengah masyarakat. Kehadiran penyuluh di ruang-ruang komunitas menjadi salah satu bentuk layanan KUA yang tidak berhenti pada pelayanan administratif, tetapi turut menjangkau kebutuhan pembinaan dan penguatan kehidupan keagamaan masyarakat.
Bagi jamaah, pesan yang disampaikan Hari menjadi pengingat bahwa kegelisahan tidak selalu harus dihadapi dengan menjauh. Sebaliknya, kegelisahan dapat menjadi momentum untuk melakukan introspeksi dan kembali mendekat kepada Allah melalui ibadah, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan memperbaiki diri.
TADABBUR ditutup dengan doa bersama. Dari masjid, jamaah diharapkan membawa satu pesan sederhana: ketika hati sedang tidak tenang, jangan menyerah dan jangan menjauh. Jadikan kegelisahan sebagai jalan untuk kembali kepada Allah. (HP)



