Kultum Asar, Kakan Kemenag Kota Yogyakarta Ajak ASN Bangun Budaya Kerja dengan Husnudzon

Yogyakarta (Humas) — Suasana pembinaan rohani mewarnai aktivitas Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta. Usai melaksanakan salat Asar berjamaah di Mushola Al Ikhlas, Kamis (1/10/2026), Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta, H. Ahmad Shidqi, menyampaikan kultum kepada ASN bawah atap.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Kankemenag Kota Yogyakarta menghadirkan pembinaan rohani secara berkelanjutan bagi ASN. Lebih dari sekadar penguatan pemahaman keagamaan, pembinaan ini diarahkan untuk menumbuhkan nilai-nilai spiritual yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam membangun hubungan kerja yang sehat, harmonis, dan berorientasi pada pelayanan.
Dalam kultumnya, Ahmad Shidqi mengangkat tema husnudzon atau berprasangka baik, baik kepada Allah SWT maupun kepada sesama manusia. Ia mengingatkan ASN agar menggunakan akal secara bijak dalam menyikapi berbagai situasi dan tidak mudah membangun prasangka buruk terhadap orang lain.
Merujuk pada pesan dalam Surah Al-Hujurat, ia mengingatkan bahwa sebagian prasangka dapat membawa seseorang pada dosa dan berkembang menjadi perilaku seperti ghibah, gunjing, maupun tuduhan yang tidak berdasar.
Menurutnya, membangun kebiasaan husnudzon bukan hanya berkaitan dengan hubungan antarmanusia, tetapi juga merupakan bagian dari keimanan kepada Allah SWT. Termasuk ketika seseorang menghadapi takdir atau musibah, sikap berbaik sangka kepada Allah akan membantu seseorang menerima keadaan dengan keyakinan dan tetap berusaha menjadi lebih baik.

“Kita lupakan apa yang sudah terjadi dan berusaha lebih baik. Husnudzon menjadi pondasi yang kuat dalam bagaimana kita berhubungan secara sosial maupun dalam berorganisasi,” pesannya.
Dalam konteks kehidupan kerja, Ahmad Shidqi menilai husnudzon dapat menciptakan suasana yang lebih nyaman. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Karena itu, ia mengajak ASN untuk lebih banyak melihat kebaikan dan potensi positif yang dimiliki rekan kerja daripada berfokus pada kekurangannya.
Sebaliknya, prasangka buruk, iri hati, dan kecenderungan mudah menyalahkan orang lain justru dapat menguras pikiran dan mengganggu kenyamanan dalam bekerja. Sementara husnudzon dapat menumbuhkan empati dan membuat seseorang lebih ringan dalam menjalani kehidupan.
“Ketika kita kedepankan husnudzon, kita akan merasa nyaman, baik dalam bermasyarakat maupun dalam bekerja. Ketika rekan kita ikut senang dan kita ikut senang, hidup akan terasa lebih ringan,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa husnudzon bukan berarti mengabaikan persoalan atau membenarkan setiap keadaan. Dalam menyikapi informasi maupun persoalan, ASN tetap perlu mengedepankan tabayun, yakni melakukan klarifikasi sebelum mengambil kesimpulan.
Selain tabayun, ia mengajak ASN membiasakan muhasabah, dengan melihat dan mengevaluasi diri sendiri. Kesadaran bahwa setiap manusia memiliki kekurangan diharapkan dapat menumbuhkan sikap saling memahami dan memaklumi.
Pesan tersebut menjadi relevan dalam kehidupan organisasi, karena lingkungan kerja tidak hanya dibangun oleh aturan dan target kinerja, tetapi juga oleh kualitas hubungan antarsesama. Sikap saling percaya, empati, komunikasi yang sehat, serta kemampuan mengelola prasangka menjadi bagian penting dalam menciptakan suasana kerja yang positif.
Melalui pembinaan rohani seperti kultum setelah salat berjamaah, Kankemenag Kota Yogyakarta berupaya menghadirkan penguatan nilai-nilai keagamaan yang tidak berhenti pada aspek ritual, tetapi diterjemahkan menjadi perilaku dalam menjalankan tugas dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Menutup kultumnya, Ahmad Shidqi berharap sikap husnudzon dapat menjadi bagian dari karakter ASN Kementerian Agama dalam menjalankan amanah dan berinteraksi dengan sesama.
“Semoga dengan husnudzon, kita dapat membawa diri menuju khusnul khatimah dan memberikan kebaikan dalam setiap ketugasan kita,” pungkasnya.(Nis)



