Penyuluh KUA Gedongtengen Sampaikan Tausiah Berbahasa Jawa di RRI :” Perkoro Fakir, Sugih, Loro, Mati, Dajjal lan Dino Kiamat.”

Yogyakarta — Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Gedongtengen, Siti Chadamiyatul Jannah, menyampaikan tausiah melalui siaran radio berbahasa Jawa di Radio Republik Indonesia (RRI). Dalam siaran tersebut beliau mengangkat tema “Opo Kang Diadapi Muslimin lan Muslimat: Perkoro Fakir, Sugih, Loro, Mati, Dajjal lan Dino Kiamat.”
Dalam tausiah tersebut, Siti Chadamiyatul Jannah menjelaskan bahwa setiap manusia dalam kehidupan pasti akan menghadapi berbagai ujian dan kenyataan hidup, mulai dari kondisi fakir (kemiskinan), sugih (kekayaan), loro (sakit), hingga mati. Semua itu merupakan bagian dari sunnatullah yang harus dihadapi dengan iman, sabar, dan tawakal kepada Allah SWT.
Beliau menuturkan bahwa keadaan fakir hendaknya tidak membuat seseorang berputus asa, karena kemiskinan dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah melalui kesabaran dan doa. Sebaliknya, keadaan sugih atau kaya juga merupakan ujian, apakah seseorang mampu bersyukur dan memanfaatkan hartanya untuk kebaikan serta membantu sesama.
Selain itu, beliau juga mengingatkan tentang kenyataan hidup berupa sakit dan kematian yang pasti akan dialami setiap manusia. Sakit dapat menjadi penggugur dosa dan pengingat agar manusia semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sedangkan kematian adalah gerbang menuju kehidupan akhirat yang harus dipersiapkan dengan memperbanyak amal saleh.
Dalam kesempatan tersebut, Siti Chadamiyatul Jannah juga menyinggung tentang tanda-tanda akhir zaman seperti munculnya Dajjal serta datangnya Hari Kiamat. Ia mengajak para pendengar untuk memperkuat iman, menjaga ibadah, serta memperbanyak amal kebajikan agar selamat dari berbagai fitnah akhir zaman.
Siaran tausiah berbahasa Jawa ini mendapat perhatian dari para pendengar karena disampaikan dengan bahasa yang sederhana, komunikatif, dan mudah dipahami masyarakat. Melalui media radio, diharapkan pesan-pesan dakwah dapat menjangkau masyarakat lebih luas dan memberikan pencerahan spiritual bagi umat Islam.
Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas penyuluh agama Islam dalam menyampaikan dakwah dan pembinaan keagamaan kepada masyarakat melalui berbagai media, termasuk siaran radio, agar nilai-nilai Islam dapat terus hidup dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.[stchadam]



