Berita

Penyuluh Katolik Mengajak Lansia Berdoa Rosario

Yogyakarta (Garakat) – Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta, Edelberts Jara, mengajak para lansia di UPT Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Terlantar (RPSLUT) Budhi Dharma Kota Yogyakarta berdoa Rosario, Senin (5/10/2026). Doa Rosario ini dilaksanakan dalam rangkain ibadat sabda yang dipandu olehnya. Dalam tradisi Katolik bulan Oktober merupakan bulan Rosario. Bulan Oktober sebagai bulan Rosario, ini berkaitan dengan peristiwa pertempuran di Lepanto pada tahun 1571. Saat itu negara-negara Eropa diserang oleh kerajaan Ottoman, di mana waktu itu Kristen mendominasi Eropa. Terdapat ancaman genting saat itu, bahwa agama Kristen terancam punah. Jumlah pasukan Turki telah melampaui pasukan Kristen di Spanyol, Genoa, dan Venesia. Dalam situasi ini Don Juan (John) dari Austria, komandan armada Katolik, berdoa Rosario memohon pertolongan Bunda Maria. Demikian juga umat Katolik di seluruh Eropa berdoa Rosario untuk memohon bantuan Bunda Maria di dalam keadaan yang mendesak ini. Pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama-sama dengan banyak umat beriman berdoa Rosario di Basilika Santa Maria Maggiore, Roma. Doa Rosario tidak berhenti didaraskan untuk mendoakan pertempuran di Lepanto sejak subuh sampai petang. Walaupun nampaknya mustahil, pada akhirnya pasukan Katolik memenangkan pertempuran. Karenanya, Paus Pius V menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai Peringatan Santa Perawan Maria Ratu Kemenangan. Pada tahun 1573 Paus Gregorius XIII mengubah Peringatan Santa Perawan Maria Ratu Kemenangan menjadi Pesta Santa Perawan Maria Ratu Rosario dan dirayakan khusus di gereja-gereja yang altarnya didedikasikan kepada Bunda Maria. Tahun 1716 Paus Klemens XI memperluas perayaan Pesta Santa Perawan Maria Ratu Rosario itu ke seluruh Gereja.

Seiring berjalannya waktu, penghormatan itu tidak hanya berhenti di satu hari saja. Pada abad ke-19, Paus Leo XIII melihat betapa besarnya ancaman tantangan zaman yang dihadapi masyarakat modern saat itu. Dengan Ensiklik Supremi Apostolatus Officio pada 1 September 1883 Paus Leo XIII pun secara resmi mendedikasikan seluruh bulan Oktober sebagai Bulan Rosario sehingga seluruh umat Katolik mendoakan Rosario setiap hari. Melalui berbagai tulisan resminya, Paus mengingatkan kembali bahwa untaian doa yang sederhana ini punya kekuatan luar biasa untuk membawa kedamaian, menyembuhkan luka batin, dan merangkul keluarga-keluarga yang sedang retak. Selanjutnya, melalui Ensiklik Octobri Mense yang dirilis 22 September 1891, Paus Leo XIII menyatakan dan menegaskan kembali bahwa bulan Oktober dibaktikan bagi Santa Perawan Maria Ratu Rosario. Demikianlah sekilas sejarah perayaan bulan Oktober merupakan bulan Rosario. Maka pada kesempatan ini Edel mengajak para lansia berdoa Rosario.

Sebelum berdoa Rosario, Edel menyampaikan renungan yang terinspirasi dari Surat Rasul kepada Jemaat di Galatia 1:6-12 dan Injil Lukas 10:25-37. Berdasarkan Surat Rasul Paulus itu Edel mengajak para lansia untuk tidak mudah berpaling dari Injil Yesus Kristus. Pada zamannya banyak injil-injil yang bukan dari Yesus Kristus. Maka dari itu, Rasul Paulus menegur dan mengingatkan jemaat agar waspada terhadap pewartaan-perwataan yang ada. Dan melalui pewartaan Injil Lukas, Edel mengajak para lansia untuk semakin mampu berbagi kasih kepada sesama. “Bagaimana kita bisa menyatakan mengasihi Allah yang tidak terlihat kalau kita tidak bisa mengasihi sesama kita yang nampak?” Edel menutup renungannya.

Pembinaan iman para lansia ini dalam bentuk ibadat Sabda dan berdoa Rosario. Ibadat Sabda diisi dengan lagu pembuka, bacaan Kitab Suci, renungan, berbagi pengalaman iman, dan lagu penutup. Partisipasi peserta dalam pembinaan ini 13 orang dengan rincian: 7 lansia Kristiani, 1 Penyuluh Kristen (Sumarni), 4 Penyuluh Katolik: F.M. Padhari Djati Martiwi, Arnoldus Suluh Dwi Candra, Edelbertus Jara, Kristoforus Moses Jamwav, dan 1 Pemerhati Lansia (Unang). (asdc)

Leave a Reply