Berita

Penyuluh Katolik Kankemenag Kota Yogyakarta Dalami Makna Kerja Bersama Staf Manna Kampus

Yogyakarta (Garakat) – Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta, Edelbertus Jara, melaksanakan pembinaan iman bagi staf Manna Kampus yang berlokasi di Jalan C. Simanjuntak No. 70, Terban, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Kamis (4/6/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Edelbertus mengajak para peserta untuk merefleksikan makna kerja melalui diskusi interaktif. Ia mengawali pembinaan dengan mengangkat pertanyaan mengenai tantangan yang dihadapi para karyawan dalam menjalankan tugas sehari-hari. Berbagai jawaban muncul dari peserta, mulai dari tuntutan profesionalitas, kejujuran, kerja sama tim, hingga tantangan dalam melayani pelanggan dengan latar belakang dan karakter yang beragam.

Beberapa peserta juga mengungkapkan kendala saat berhadapan dengan pelanggan warga negara asing akibat keterbatasan bahasa, serta menghadapi pelanggan yang datang dengan persoalan pribadi sehingga sulit merasa puas terhadap pelayanan yang diberikan.

Melalui refleksi tersebut, Edelbertus mengajak peserta untuk melihat pekerjaan tidak hanya sebagai sarana memperoleh penghasilan, tetapi juga sebagai panggilan yang memiliki nilai spiritual dan makna yang lebih dalam. Menurutnya, terdapat nilai transenden di balik setiap aktivitas kerja yang dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi.

“Bekerja tentu untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga. Namun lebih dari itu, pekerjaan merupakan bagian dari panggilan hidup yang memungkinkan manusia berpartisipasi dalam karya Allah,” ungkap Edelbertus.

Ia kemudian memaparkan pandangan Gereja Katolik mengenai kerja sebagaimana diajarkan dalam ensiklik Laborem Exercens karya Paus Yohanes Paulus II. Dalam ajaran tersebut ditegaskan bahwa kerja merupakan bentuk partisipasi manusia dalam karya penciptaan Allah dan memiliki nilai yang mengangkat martabat manusia sebagai citra Allah (Imago Dei).

Edelbertus menjelaskan beberapa pilar utama ajaran Gereja tentang kerja, yakni kerja sebagai panggilan ilahi dan sarana pengudusan diri, penghormatan terhadap martabat pekerja melalui pemenuhan hak-hak dasar seperti upah yang adil, jaminan kesehatan, dan lingkungan kerja yang aman, orientasi kerja bagi kesejahteraan bersama (bonum commune), serta pentingnya menjaga keseimbangan hidup melalui waktu istirahat, rekreasi, dan ibadah bersama keluarga.

Pembinaan iman berlangsung dalam suasana hangat dan penuh refleksi. Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama untuk kelancaran usaha Manna Kampus, kesehatan para pekerja, serta rezeki yang cukup bagi seluruh karyawan. Seluruh intensi doa tersebut dipersatukan dalam Doa Bapa Kami.

Usai kegiatan, peserta dan narasumber melakukan foto bersama sebelum kembali menjalankan aktivitas dan tugas masing-masing. Pembinaan ini diharapkan semakin menumbuhkan kesadaran bahwa pekerjaan bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan juga sarana mewujudkan panggilan hidup, pelayanan, dan pengabdian kepada sesama.[ej]