Berita

Penyuluh Katolik Ajak Lansia Bersukacita dan Mensyukuri Kehidupan

Yogyakarta (Garakat) – Sukacita tidak selalu hadir dari keadaan yang sempurna. Terkadang, sukacita tumbuh dari hal-hal sederhana, seperti tubuh yang masih sehat, tempat tinggal yang nyaman, makanan yang tersedia, serta perhatian dan kasih dari orang-orang di sekitar. Pesan inilah yang disampaikan dalam pendampingan iman bagi para lansia di UPT Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Terlantar (RPSLUT) Budhi Dharma Kota Yogyakarta, Senin (26/10/2026).

Kegiatan yang dilaksanakan oleh Penyuluh Agama Katolik ini diisi dengan Ibadat Sabda dan doa Rosario. Ibadat Sabda dipimpin oleh Kristoforus Moses Jamwav dengan bacaan Kitab Suci dari Injil Lukas 13:10–17.

Dalam renungannya, Moses, demikian ia akrab disapa, mengajak para lansia untuk tetap bersyukur dan bersukacita dalam menjalani kehidupan, apa pun keadaan yang sedang dihadapi. Menurutnya, ada banyak hal sederhana yang patut disyukuri, termasuk kesehatan, tempat tinggal, tempat tidur, dan terpenuhinya kebutuhan makan sehari-hari.

Lebih dari itu, ia mengingatkan bahwa sukacita juga tumbuh ketika seseorang menyadari masih ada pihak-pihak yang peduli dan memberikan perhatian. Kehadiran orang lain yang bersedia mendampingi menjadi penguat bagi para lansia agar tetap merasakan kasih dan penerimaan.

“Mari kita bersyukur dan bersukacita atas kondisi kita yang sehat, serta keadaan kita saat ini yang masih memiliki tempat tinggal, tempat tidur, dan jaminan makan. Namun, lebih-lebih kita bersukacita atas keselamatan yang kita peroleh,” ungkap Moses.

Ia juga menegaskan bahwa keselamatan merupakan anugerah kasih Allah bagi manusia melalui Tuhan Yesus Kristus. Keselamatan bukan semata-mata hasil usaha manusia, melainkan buah kasih Allah yang berkenan menebus dosa manusia.

Pesan tersebut mengajak para lansia untuk tidak hanya melihat keterbatasan yang mungkin mereka alami, tetapi juga menemukan alasan untuk tetap bersyukur, berpengharapan, dan bersukacita dalam penyertaan Tuhan.

Usai renungan singkat, kegiatan dilanjutkan dengan doa Rosario yang dipimpin oleh Arnoldus Suluh Dwi Candra. Doa bersama ini menjadi ruang bagi para lansia untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus menguatkan iman dalam menjalani hari-hari mereka.

Suasana pendampingan semakin bermakna dengan kesaksian iman dari Unang dan Sumarni. Keduanya merupakan pemerhati lansia dan penyuluh agama Kristen yang turut berbagi pengalaman serta memberikan penguatan rohani kepada para peserta.

Sebanyak 11 orang terlibat dalam kegiatan ini, terdiri atas tujuh lansia Kristiani, dua Penyuluh Agama Katolik, yakni Arnoldus Suluh Dwi Candra dan Kristoforus Moses Jamwav, satu Penyuluh Agama Kristen, Sumarni, serta satu pemerhati lansia, Unang.

Melalui pendampingan iman ini, para penyuluh berharap para lansia semakin menyadari bahwa mereka tidak berjalan sendiri. Perhatian, kebersamaan, dan penguatan iman menjadi bagian penting dalam menghadirkan kehidupan yang lebih bermakna, sehingga di tengah berbagai keadaan, sukacita dan rasa syukur tetap tumbuh dalam hati.(asdc)

Leave a Reply