Berita

Penyuluh Buddha Kemenag Kota Yogyakarta Kenalkan Tipiṭaka dalam Diskusi Lintas Iman di UKDW

Yogyakarta (Humas) – Ruang akademik menjadi tempat yang istimewa untuk saling mengenal, memahami, dan belajar dari keberagaman. Hal inilah yang tergambar dalam Diskusi Kelas Perkuliahan Pembacaan Teks-Teks Suci Program Studi Magister Filsafat Keilahian, Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, Kamis (29/10/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Penyuluh Agama Buddha Kementerian Agama Kota Yogyakarta, Totok, S.Ag., hadir sebagai narasumber atas undangan dosen pengampu mata kuliah, Pendeta Dr. Wahyu Nugroho, M.A. Ia menyampaikan materi bertajuk “Makna Kitab Suci Tipiṭaka dalam Agama Buddha dan Dinamika Penafsiran atas Kitab Suci Buddha Terkait Kekerasan.”

Dalam pemaparannya, Totok memperkenalkan Tipiṭaka sebagai kumpulan kitab suci agama Buddha yang menjadi sumber utama dalam memahami sekaligus mempraktikkan ajaran Buddha. Ia juga mengajak mahasiswa mencermati bagaimana teks-teks suci dibaca, dipahami, dan ditafsirkan dalam konteks kehidupan masyarakat, terutama ketika dihadapkan pada persoalan kekerasan.

Diskusi berlangsung hangat dan dinamis. Para mahasiswa menunjukkan antusiasme melalui beragam pertanyaan, tanggapan, serta pandangan kritis mengenai ajaran Buddha dan dinamika penafsirannya. Menariknya, sebagian besar peserta merupakan pendeta gereja Kristen dari berbagai daerah di Indonesia dengan latar belakang denominasi yang beragam.

Perjumpaan tersebut menghadirkan suasana dialog lintas iman yang terbuka dan penuh penghargaan. Perbedaan tradisi keagamaan tidak menjadi sekat untuk berdiskusi, melainkan menjadi kekayaan perspektif yang memperluas pemahaman bersama.

Bagi Totok, kesempatan ini menjadi ruang penting untuk memperkenalkan khazanah kitab suci agama Buddha di lingkungan akademik teologi Kristen. Lebih dari itu, dialog semacam ini membuka kesempatan bagi setiap tradisi keagamaan untuk saling belajar tentang cara memahami teks suci serta menerapkan nilai-nilainya dalam menjawab persoalan kemanusiaan.

Pertemuan ini sekaligus menegaskan bahwa kerukunan tidak cukup hanya dibangun melalui sikap saling menghormati dari kejauhan. Kerukunan tumbuh ketika umat beragama bersedia membuka ruang perjumpaan, berdialog secara setara, dan mendengarkan perspektif satu sama lain.

Melalui kegiatan ini, diharapkan semangat moderasi beragama semakin nyata dalam kehidupan akademik maupun masyarakat. Sebab, di tengah perbedaan keyakinan, selalu ada nilai-nilai kemanusiaan yang dapat menjadi titik temu untuk merawat persaudaraan dan kehidupan yang damai.[totok]

Leave a Reply