Berita

Penyuluh Agama Katolik Kemenag Yogyakarta Bersama Komunitas Dampingi Warga Binaan Kristiani

Yogyakarta (Garakat) – Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta berkolaborasi dengan Komunitas Doa SPV (Saint Paul Volunteer) dan Komunitas Pemerhati Tahanan Maximillianus Maria Kolbe (MMK) melaksanakan pembinaan iman bagi warga binaan Kristiani di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Yogyakarta, Selasa (1/9/2026).

Pembinaan iman dikemas dalam ibadat yang dipimpin Romo Antonius Invarien Alpha Andriyanto, Pr. Firman Tuhan yang menjadi dasar permenungan bertolak dari Injil Matius 4:31-37 tentang Yesus yang mengajar dengan penuh kuasa dan mengusir roh jahat di sebuah rumah ibadat di Kapernaum.

Dalam permenungan tersebut disampaikan bahwa kehadiran Yesus menunjukkan otoritas Ilahi yang nyata atas kuasa kegelapan. Pesan tersebut menjadi penguatan bagi warga binaan agar tetap memiliki iman dan pengharapan dalam menjalani proses kehidupan, termasuk selama berada di dalam rutan.

Kegiatan pembinaan iman diikuti oleh 12 warga binaan Kristiani, 1 perwakilan MMK, 4 anggota SPV, serta 3 Penyuluh Agama Katolik Kankemenag Kota Yogyakarta.

Setelah ibadat dan renungan, kegiatan dilanjutkan dengan peneguhan pokok-pokok penting dari bacaan Injil oleh Penyuluh Agama Katolik Kankemenag Kota Yogyakarta, yakni FM Padhari Djati Martiwi, S.H., Edelbertus Jara, S.Fil., dan Kristoforus Moses Jamwav, S.E.

Para Penyuluh menekankan pentingnya menjaga iman, membangun harapan, dan membuka diri terhadap perubahan positif. Masa menjalani pembinaan di rutan diharapkan tidak hanya dipandang sebagai keterbatasan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk melakukan refleksi diri dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik.

Kegiatan pembinaan iman ini merupakan bagian dari pendampingan rutin yang dilakukan Penyuluh Agama Katolik Kankemenag Kota Yogyakarta bersama berbagai pihak. Kolaborasi tersebut menjadi wujud kepedulian terhadap pemenuhan kebutuhan spiritual warga binaan Kristiani.

Melalui pembinaan secara berkelanjutan, para warga binaan diharapkan semakin dikuatkan dalam iman, memperoleh ketenangan batin, serta memiliki harapan untuk menjalani setiap tahapan kehidupan dengan lebih baik.

Kehadiran Penyuluh Agama bersama komunitas juga menjadi pengingat bahwa pembinaan dan pelayanan keagamaan tetap dapat hadir di tengah berbagai keterbatasan. Dengan iman, pendampingan, dan dukungan komunitas, warga binaan diharapkan mampu menatap masa depan dengan semangat baru dan keyakinan bahwa selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri.[utha]

Leave a Reply