Penyuluh Agama Islam KUA Umbulharjo Sampaikan Pesan Spiritual kepada Warga Binaan Lapas Wirogunan

Yogyakarta, 30 September 2026 — Penyuluh Agama Islam KUA Kemantren Umbulharjo, Sugiharto, memberikan bimbingan dan pesan spiritual kepada warga binaan di Lapas Wirogunan Yogyakarta, Rabu (30/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung pada pukul 10.30–11.15 WIB tersebut diisi dengan tausiyah keagamaan dengan tema “Empat Keadaan Manusia dan Sikap Seorang Hamba dalam Menghadapinya.”
Dalam tausiyahnya, Sugiharto menyampaikan nasihat yang dinisbatkan kepada Imam Abu al-Abbas al-Mursi kepada Ibnu Atha’illah as-Sakandari, bahwa kehidupan manusia pada dasarnya berputar dalam empat keadaan, yaitu mendapat nikmat, tertimpa musibah, melakukan ketaatan, dan terjatuh dalam kemaksiatan.
Ketika mendapatkan nikmat, seorang hamba hendaknya memperbanyak rasa syukur kepada Allah SWT dan menggunakan nikmat tersebut untuk kebaikan. Sementara ketika menghadapi musibah dan ujian, seorang hamba dituntut untuk bersabar, ridha, serta tetap berbaik sangka kepada Allah SWT.
“Ketika kita mendapatkan nikmat, kewajiban kita adalah bersyukur. Ketika mendapatkan ujian, kita belajar bersabar dan ridha. Ketika mampu melakukan ketaatan, jangan merasa hebat dengan amal kita, tetapi sadari bahwa semua itu merupakan pertolongan dan taufik dari Allah,” pesan Sugiharto.
Adapun ketika seseorang terjatuh dalam maksiat, Sugiharto mengingatkan agar tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT. Kesalahan hendaknya menjadi momentum untuk melakukan taubat, introspeksi diri, dan memperbaiki kehidupan.
Selain itu, Sugiharto mengutip pesan-pesan dalam Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah as-Sakandari mengenai pentingnya tadabbur. Menurutnya, kemampuan merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya dapat menjadi jalan untuk menerangi hati dan semakin menghadirkan kesadaran akan kebesaran Allah SWT dalam kehidupan.
“Pikiran hendaknya menjadi pelita bagi hati. Dengan tadabbur terhadap ciptaan Allah, kita belajar melihat kebesaran-Nya sehingga hati semakin dekat dan ingat kepada Allah,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sugiharto juga menyampaikan pentingnya dzikir, termasuk membaca kalimat “Lā ilāha illallāh” sebagai bentuk mengingat dan mengesakan Allah SWT. Ia turut menjelaskan tata cara atau kaifiyah dzikir yang diajarkan dalam tradisi Thariqah Syadziliyah, dengan penekanan pada kesadaran hati dalam berdzikir.
Kegiatan bimbingan spiritual ini diharapkan tidak berhenti pada pemahaman materi, tetapi dapat menjadi bekal bagi warga binaan dalam menjalani proses pembinaan dan mempersiapkan diri untuk kembali ke tengah masyarakat.
“Harapannya, pesan yang disampaikan hari ini tidak hanya didengar, tetapi dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap keadaan yang kita alami dapat menjadi jalan untuk semakin dekat kepada Allah dan menjadi pribadi yang lebih baik,” pungkas Sugiharto.
Kegiatan berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh kekeluargaan, serta menjadi bagian dari upaya Penyuluh Agama Islam dalam memberikan pendampingan keagamaan dan penguatan spiritual kepada warga binaan.(khaer)



