Penghulu KUA Mantrijeron: Jangan Takut Menikah karena Miskin, Allah Menjamin Kecukupan

YOGYAKARTA – Suasana khidmat menyelimuti Ballroom Hotel Lynn Yogyakarta saat pasangan Bayu Indra Budi dan Dwiyantri Rahesanita melangsungkan akad nikah pada Ahad (21/12/2025). Prosesi ijab kabul dipimpin oleh Penghulu KUA Mantrijeron, Mu’inan, S.H.I., M.S.I., yang menyampaikan khutbah nikah penuh makna tentang keyakinan kepada janji Allah dalam membangun rumah tangga.
Di hadapan kedua mempelai dan para tamu undangan, Mu’inan mengangkat tema yang dekat dengan realitas generasi muda, yakni kecemasan terhadap kondisi ekonomi sebelum menikah. Menurutnya, rasa khawatir merupakan hal yang manusiawi, namun tidak boleh sampai menghalangi seseorang menunaikan ibadah pernikahan.
“Jangan berpikir takut miskin karena menikah. Jika rasa takut itu sampai menghalangi ibadah, maka ada keyakinan yang perlu diluruskan,” pesannya.
Mu’inan kemudian mengutip firman Allah Swt. dalam Surah An-Nur ayat 32:
“Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.”
Ia menjelaskan bahwa ayat tersebut merupakan janji Allah bagi hamba-Nya yang menempuh jalan pernikahan dengan niat yang baik. Menurutnya, Allah tidak mensyaratkan seseorang harus kaya sebelum menikah, melainkan memerintahkan umat-Nya untuk berikhtiar dan bertawakal.
Dengan gaya penyampaian yang komunikatif, Mu’inan mengajak jamaah melihat persoalan rezeki melalui sudut pandang keimanan.
“Secara hitungan manusia, satu orang miskin ditambah satu orang miskin menjadi dua orang miskin. Namun dalam logika iman, satu orang miskin ditambah satu orang miskin, kemudian disertai keberkahan Allah, akan menghadirkan kecukupan.”
Ia juga mengutip nasihat Khalifah Umar bin Khattab yang mengherankan orang-orang yang berharap menjadi kaya, tetapi enggan menikah, padahal Allah telah menjanjikan kecukupan bagi mereka yang menempuh jalan tersebut.
Lebih lanjut, Mu’inan menjelaskan bahwa setelah menikah, seseorang tidak lagi berjuang hanya untuk dirinya sendiri. Kehadiran pasangan dan kelak anak-anak menjadi bagian dari ikhtiar yang membuka pintu-pintu rezeki baru. Karena itu, pasangan suami istri harus membangun rumah tangga dengan semangat bekerja, saling menguatkan, dan memperbanyak doa.
Menutup khutbahnya, Mu’inan mengingatkan bahwa kemiskinan yang paling berat bukanlah kekurangan harta, melainkan hilangnya keyakinan kepada Allah. Ia mengutip sebuah hikmah dari penyair besar Arab, Al-Mutanabbi, bahwa sering kali sesuatu yang paling ditakuti manusia justru menyimpan jalan keluar dan kebaikan yang tidak disangka-sangka.
Prosesi akad nikah berlangsung lancar dan penuh haru. Dengan bekal doa, nasihat, dan keyakinan kepada Allah Swt., Bayu Indra Budi dan Dwiyantri Rahesanita memulai perjalanan rumah tangga mereka dengan harapan menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. (m.uin.@n)


