Penghulu KUA Mantrijeron Ajak Warga Wujudkan Kampung ASRI Melalui Ekoteologi

YOGYAKARTA – Kepedulian terhadap lingkungan hidup di kawasan perkotaan menjadi sorotan dalam khutbah Jumat yang disampaikan Penghulu KUA Mantrijeron, Mu’inan, S.H.I., M.S.I., di Masjid Nur Amanah, Golo, Umbulharjo, Jumat (12/6).
Dalam khutbahnya, Mu’inan menegaskan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari implementasi iman melalui konsep ekoteologi atau teologi lingkungan. Menurutnya, ajaran Islam memosisikan manusia sebagai khalifah yang bertanggung jawab merawat bumi, bukan mengeksploitasinya secara semena-mena.
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,” kutipnya dari QS. Ar-Rum ayat 41.
Ia menyoroti berbagai persoalan lingkungan di kawasan padat penduduk, seperti kebiasaan membuang sampah sembarangan dan membakar sampah plastik, yang tidak hanya merusak lingkungan tetapi juga berpotensi memicu konflik sosial dan gangguan kesehatan masyarakat.
Mu’inan menjelaskan bahwa kesadaran ekoteologi sejalan dengan semangat Program Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) yang tengah didorong Kementerian Agama. Menurutnya, ada tiga manfaat besar yang dapat diwujudkan melalui kepedulian lingkungan berbasis nilai keagamaan.
Pertama, terciptanya lingkungan yang sehat melalui pengelolaan sampah dan kebersihan saluran air. Kedua, terbangunnya suasana aman dan harmonis antartetangga melalui budaya gotong royong merawat fasilitas umum. Ketiga, hadirnya lingkungan yang rapi dan indah meskipun di tengah keterbatasan lahan perkotaan.
Ia mengajak masyarakat memanfaatkan ruang sempit dengan berbagai cara, seperti menanam menggunakan pot, hidroponik, maupun vertical garden. Selain mempercantik lingkungan, langkah tersebut juga menjadi bentuk ibadah dan kepedulian terhadap kelestarian alam.
“Jangan pernah meremehkan tindakan memungut selembar plastik di jalanan. Bisa jadi, aksi kecil kita untuk mewujudkan lingkungan yang aman, sehat, resik, dan indah inilah yang justru menjadi amalan utama yang memasukkan kita ke dalam surga-Nya,” ujarnya di hadapan jamaah.
Melalui khutbah tersebut, Penghulu KUA Mantrijeron mengajak masyarakat untuk memulai gerakan menjaga lingkungan dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Kepedulian terhadap alam, menurutnya, bukan sekadar tanggung jawab sosial, melainkan juga wujud nyata pengamalan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari._(m.uin.@n).



