Berita

Ngaji Penyejuk Hati, Warga Yogyakarta – Balai Rehabilitasi Sosial Bina Karya dan Laras Dinsos DIY Disapa PAIF Tegalrejo

Yogyakarta (KUA Tegalrejo) – Suasana penuh kekeluargaan menyelimuti Musholla Balai Rehabilitasi Sosial Bina Karya dan Laras (BRSBKL) Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (5/10/2026).

Penyuluh Agama Islam Fungsional (PAIF) KUA Tegalrejo Kusmanto, S.Ag hadir dalam program Ngaji Penyejuk Hati, menyapa dan menguatkan para Warga Binaan Sosial yang sedang menjalani proses rehabilitasi.

Balai Rehabilitasi Sosial Bina Karya dan Laras merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Sosial DIY yang memiliki tugas mulia membantu rehabilitasi bagi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), khususnya gelandangan, pengemis, orang terlantar, serta eks disabilitas mental yang telah selesai menjalani perawatan medis dan siap untuk kembali ke masyarakat.

Mereka yang hadir di Musholla ini adalah para pejuang kehidupan. Pernah berada di titik terendah, pernah tersesat di jalanan, pernah mengalami luka batin yang dalam. Kini, di BRSBKL mereka belajar menata kembali hidup, belajar keterampilan, dan yang terpenting, belajar menemukan kembali Tuhannya.

Mengusung tema “Allah Tidak Pernah Lelah Menunggu Hamba-Nya Kembali”, PAIF Tegalrejo menyampaikan tausiyah setelah bersama bertadarus Al Qur’an.

Kusmanto membuka dengan Firman Allah SWT yang menjadi obat bagi hati yang putus asa, QS. Az-Zumar: 53:
> “Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”

“Bapak ibu, saudara-saudara saya yang saya muliakan. Di hadapan Allah, kita semua sama. Yang ada adalah hamba Allah yang sedang Allah rindu. BRSBKL ini bukan tempat buangan, ini adalah taman Allah untuk membersihkan hati, untuk istirahat sejenak sebelum kembali menjadi manusia yang lebih kuat,” ujar PAIF Tegalrejo ini dengan penuh empati.

Ada 3 pesan penyejuk hati yang disampaikan PAIF sesuai dengan tujuan rehabilitasi di BRSBKL:
1.Pulih Raga, Pulih Jiwa, Pulih Iman.
Tujuan BRSBKL membantu rehabilitasi fisik dan sosial, tapi tugas Kemenag membantu rehabilitasi hati. Jika hati sudah pulih dengan sholat dan mengaji Al Qur’an, maka raga dan mental akan ikut pulih. Karena ketenangan sejati hanya datang dengan mengingat Allah. Sebagaimana firman-Nya QS. Ar-Ra’d: 28, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.”

2.Eks Disabilitas Mental Bukan Aib, Tapi Ladang Pahala Kesabaran.
PAIF menegaskan bahwa gangguan mental bukanlah aib yang harus ditutupi. Itu adalah ujian yang Allah berikan untuk meninggikan derajat. Tugas kita saat ini adalah rutin minum obat, rutin mengikuti bimbingan di balai, dan rutin mendekat kepada Allah. Sabar adalah obat yang tidak ada di apotek.

3.Menyiapkan Diri Kembali ke Masyarakat dengan Bekal Taqwa.
BRSBKL melatih keterampilan agar bisa mandiri secara ekonomi. PAIF menambahkan bekal agar mandiri secara spiritual. Jangan sampai setelah keluar dari sini kembali ke jalanan. Keluar dari sini harus membawa dua bekal: keterampilan di tangan, dan iman di dada. Agar bisa diterima kembali dengan baik di keluarga dan masyarakat.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama.

Kepala KUA Tegalrejo, H Supasdi, S.Ag. menegaskan komitmen PAIF untuk terus hadir.

“Ini adalah dakwah yang paling tulus. Dakwah kepada mereka yang sering dilupakan. Sesuai arahan Kakankemenag Kota Yogyakarta, Penyuluh Agama harus hadir di semua lapisan. Di BRSBKL ini, kami ingin menjadi keluarga, menjadi teman, menjadi penyejuk. Karena setiap jiwa berhak mendapatkan kasih sayang Allah,” tegasnya. (Kus)

#BRSBKL
#DinasSosialDIY
#EksDisabilitasMental
#PAIFTegalrejo
#KemenagKotaYogyakarta

Leave a Reply