Menjemput Panggilan Langit, Jamaah Diajak Meneladani Ketundukan Nabi Ibrahim

Yogyakarta – Suasana khidmat dan penuh haru mewarnai Pengajian Rutin Majelis Taklim Shirotul Mustaqim An Nadzar yang berlangsung di wilayah Kemantren Gedongtengen, Kamis (4/6/2026). Dalam kesempatan tersebut, Penyuluh Agama Islam KUA Gedongtengen, Asrofi, menyampaikan tausiah bertema “Panggilan Haji dari Nabi Ibrahim AS: Meneladani Ketundukan Total kepada Allah SWT”.
Kegiatan yang dihadiri puluhan jamaah dari kalangan ibu-ibu dan bapak-bapak tersebut bertujuan memperdalam pemahaman masyarakat tentang hakikat ibadah haji sebagai bentuk ketaatan dan kepasrahan kepada Allah SWT, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS dan keluarganya.
Dalam ceramahnya, Asrofi mengisahkan sejarah panjang perintah haji yang berawal dari perjuangan Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, dan Nabi Ismail AS di lembah Makkah yang tandus. Ia menjelaskan bahwa ibadah haji merupakan panggilan istimewa dari Allah SWT yang telah diserukan sejak masa Nabi Ibrahim dan terus menggema hingga saat ini.
“Haji adalah undangan Allah bagi hamba-Nya. Ketika Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyeru manusia agar berhaji, beliau melaksanakannya dengan penuh ketaatan. Dari sinilah kita belajar bahwa setiap perintah Allah harus disambut dengan kepatuhan dan keyakinan,” ungkapnya.
Dalam tausiahnya, Asrofi menekankan beberapa nilai penting yang dapat dipetik dari perjalanan haji. Pertama, makna talbiyah “Labbaik Allahumma Labbaik” sebagai simbol kesiapan seorang hamba memenuhi panggilan Allah dengan penuh ketundukan. Kedua, keteladanan Siti Hajar yang mengajarkan pentingnya ikhtiar yang sungguh-sungguh disertai tawakal kepada Allah SWT. Ketiga, pentingnya mempersiapkan istitha’ah atau kemampuan berhaji, baik dari aspek fisik, mental, spiritual, maupun finansial.
Materi yang disampaikan mendapat sambutan hangat dari para jamaah. Salah satu peserta, Ibu Siti (55), mengaku memperoleh pemahaman baru mengenai makna ibadah haji yang sesungguhnya.
“Selama ini saya mengira haji hanya soal kemampuan biaya. Setelah mendengar kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya, saya semakin memahami bahwa haji adalah tentang kerinduan kepada Allah dan kesiapan hati untuk memenuhi panggilan-Nya,” tuturnya.
Kepala KUA Gedongtengen menyambut baik terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, majelis taklim memiliki peran strategis dalam memperkuat pemahaman keagamaan masyarakat sekaligus menanamkan nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam ibadah haji.
Melalui kegiatan pengajian seperti ini, KUA Gedongtengen berharap semangat beribadah, berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik, serta kerinduan untuk menunaikan ibadah haji semakin tumbuh di tengah masyarakat.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama agar para jamaah diberikan kesehatan, kelapangan rezeki, dan kesempatan untuk memenuhi panggilan Allah ke Baitullah, serta memohon keselamatan dan keberkahan bagi bangsa Indonesia.[rafi]



