Kupas Keutamaan Makanan Halal, Penyuluh Agama KUA Wirobrajan Ungkap Rahasia Keberkahan Hidup

Dalam rangka memperkuat literasi keislaman di tengah masyarakat, Agus Saeful Bahri, S.Ag., M.S.I, selaku Penyuluh Agama Islam Kemantren Wirobrajan, hadir sebagai narasumber dalam program siaran radio bertajuk podcast yang disiarkan secara live streaming melalui channel Radio Unisia, Rabu (28/10/2026) pukul 10.00–11.00 WIB.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi strategis antara Literasi Keislaman Kementerian Agama Kota Yogyakarta dengan Radio Dakwah UNISIA untuk mengedukasi masyarakat luas mengenai pentingnya mengonsumsi makanan yang sesuai dengan tuntunan syariat.
Dalam pemaparannya, Agus Saeful Bahri mengawali materi dengan merujuk pada QS. Al-Baqarah ayat 168 dan QS. Al-A’raf ayat 31. Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah SWT membolehkan manusia untuk mengonsumsi apa saja yang ada di bumi dengan ketentuan halal lagi baik (thoyyib) serta tidak berlebihan (isrof).
Lebih lanjut, beliau membedah materi ke dalam tiga kata kunci utama yang perlu dipahami umat Muslim:
1. Halal, yakni segala sesuatu yang dibolehkan oleh Allah SWT yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang diharamkan. Beliau menjelaskan bahwa keharaman suatu hal umumnya terbagi menjadi dua, yaitu haram karena buruk zatnya (seperti bangkai atau babi) dan haram karena bukan hak milik sendiri (didapat melalui cara yang batil).
2. Thoyyib, yang berarti barang atau makanan tersebut memiliki kualitas yang bagus serta bernilai gizi tinggi yang menyehatkan tubuh.
3. Tidak Isrof (Tidak Berlebihan), yakni mengonsumsi sesuatu secukupnya sesuai dengan kebutuhan tubuh agar tidak berubah menjadi mudarat atau membahayakan kesehatan.
Agus Saeful Bahri juga menekankan bahwa konsep makan makanan halal tidak hanya berhenti pada zat makanannya saja, melainkan mencakup rangkaian proses yang utuh. Mulai dari pemilihan bahan baku, cara pengolahan, hingga proses distribusi, semuanya harus memenuhi ketiga unsur di atas sebagaimana diatur dalam UU nomor 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal.
Menutup sesinya, beliau mengingatkan bahwa mengonsumsi makanan yang halal dan thoyyib bukan sekadar memenuhi kebutuhan jasmani, melainkan menjadi fondasi penting yang akan membawa keberkahan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.[ekoAW]



