Berita

Kunjungan Edukatif Kelas XI MAN 1 Yogyakarta ke Benteng Vredeburg

Yogyakarta (MAN 1 Yogyakarta) – Sementara sebagian murid MAN 1 Yogyakarta mengikuti studi budaya ke  Bali, sebagian lagi mengikuti studi budaya di area Yogyakarta yang obyeknya dipilih sendiri. Hal ini untuk memberikan kegiatan yang serupa bagi murid yang tidak mengikuti kegiatan di Bali. Dalam melakukan studi budaya lokal, murid dibagi menjadi beberapa kelompok yang tiap-tiap kelompok terdiri dari 5 orang.

Sebagian murid mengadakan  kunjungan edukatif ke Benteng Vredeburg Yogyakarta, Senin, (12/01/2026) pukul 08.00-12.00 WIB. Kepala MAN 1 Yogyakarta Edi Triyanto, S. Ag., S. Pd., M. Pd., mengharapkan kunjungan ini dapat memperkaya wawasan murid mengenai sejarah perjuangan bangsa Indonesia secara langsung melalui sumber belajar autentik.

Selama kegiatan di Benteng Vredenburg, para murid menelusuri ruang-ruang pameran yang menyajikan diorama perjuangan, dokumentasi sejarah, serta berbagai artefak yang menggambarkan perjalanan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan.

Benteng Vredeburg, yang terletak di kawasan Nol Kilometer Yogyakarta, merupakan bangunan bersejarah peninggalan kolonial Belanda yang kini difungsikan sebagai museum perjuangan nasional. Bangunan benteng berbentuk persegi dengan dinding tebal berwarna putih dan dikelilingi parit, mencerminkan fungsi pertahanannya pada masa lalu. Di bagian dalam, pengunjung dapat menemukan bangunan-bangunan barak serta ruang pamer yang tertata rapi dan informatif.

Murid-murid mengaku mendapatkan pengalaman yang berkesan dari kegiatan ini. Keilla Mutiara, salah seorang murid dari kela XI A mengatakan bahwa kunjungan ke Benteng Vredeburg Yogyakarta memberikan kesan yang menyenangkan dan bermanfaat. “Selain menambah wawasan kami, kunjungan ini juga menumbuhkan rasa cinta tanah air,” ungkap Keilla lagi.

Salah satu klompok yang  terdiri dari: Keilla Mutiara (XIA), Prina Kharismawati (XIB), Risqi Janneta (XIB), dan Khansa (XID) mengaku memperoleh banyak pengetahuan tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia serta menjadi lebih menghargai jasa para pahlawan. Dengan demikian, para murid yang melaksanakan studi budaya di Bali maupun yang tidak, dapat sama- sama menimba ilmu dari  sejarah-budaya dari sumber otentik. (luf)

Leave a Reply