KUA Mergangsan Perkuat Gerakan Ekoteologi Berbasis Penyuluhan

Ungaran, Semarang (KUA Mergangsan) — Program Ekoteologi di KUA Mergangsan terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya menghadirkan nilai-nilai kepedulian lingkungan melalui peran penyuluh agama. Perkembangan program tersebut dipaparkan Penyuluh Agama Islam KUA Mergangsan, Lia Karlia, S.Ag., dalam Coaching ke-4 Program Ekoteologi yang digelar Balai Diklat Keagamaan (BDK) Semarang, Kamis (1/10/2026), di Resto dan Lesehan Rumah Bambu, Ungaran, Jawa Tengah.
Coaching ke-4 menjadi ruang evaluasi sekaligus penguatan terhadap implementasi program yang telah dijalankan peserta Bimtek Ekoteologi di satuan kerja masing-masing. Dalam forum tersebut, Lia memaparkan perkembangan Program Ekoteologi di KUA Mergangsan, termasuk praktik yang telah dilakukan serta rencana tindak lanjut untuk memastikan program tidak berhenti sebagai hasil pelatihan.
Bagi KUA Mergangsan, ekoteologi tidak ditempatkan semata-mata sebagai program yang berkaitan dengan kebersihan dan penghijauan lingkungan kantor. Lebih dari itu, nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan diupayakan menjadi bagian dari pelaksanaan tugas penyuluh agama, khususnya dalam membangun kesadaran masyarakat bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan.
Melalui perspektif tersebut, penyuluh memiliki ruang strategis untuk membawa pesan kepedulian lingkungan lebih dekat kepada masyarakat. Nilai-nilai keagamaan dapat menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan kesadaran bahwa lingkungan merupakan amanah yang harus dijaga bersama.
Lia Karlia menegaskan pentingnya keberlanjutan program agar ekoteologi tidak berhenti pada kegiatan Bimtek maupun coaching, tetapi benar-benar diterapkan dalam aktivitas di KUA sekaligus dikembangkan melalui peran penyuluh di tengah masyarakat. Menurutnya, implementasi program perlu terus dievaluasi agar setiap kegiatan yang telah dilakukan memiliki arah tindak lanjut dan memberikan manfaat yang lebih luas.
Paparan KUA Mergangsan dalam coaching tersebut sekaligus menunjukkan bahwa peran penyuluh agama tidak hanya berkaitan dengan penyampaian materi keagamaan secara konvensional. Penyuluh juga dapat menjadi penggerak perubahan sosial dengan mengintegrasikan pesan-pesan keagamaan dengan isu aktual yang dekat dengan kehidupan masyarakat, termasuk kepedulian dan kelestarian lingkungan.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena keberhasilan Program Ekoteologi pada akhirnya tidak hanya diukur dari perubahan lingkungan fisik di satuan kerja. Lebih jauh, program diharapkan mampu membangun kesadaran, kebiasaan, dan partisipasi masyarakat untuk menjaga lingkungan secara berkelanjutan.
Kepala BDK Semarang, H. Suyatno, Lc., M.Si., membuka kegiatan coaching yang diikuti para peserta Bimtek Ekoteologi. Forum ini menjadi bagian dari proses pendampingan dan pemantauan terhadap implementasi hasil pelatihan, sekaligus memberikan ruang kepada peserta untuk menyampaikan perkembangan, tantangan, serta rencana pengembangan program di satuan kerja masing-masing.
Sementara itu, coach pendamping, Dr. Amiroh Ambarwati, S.Pd., memberikan penguatan terhadap pentingnya keberlanjutan program. Praktik-praktik yang telah dilakukan peserta diharapkan tidak berhenti sebagai capaian individual setelah mengikuti Bimtek, tetapi terus dikembangkan menjadi praktik baik yang dapat direplikasi dan memberikan dampak lebih luas.
Bagi KUA Mergangsan, momentum coaching menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan program sekaligus memperkuat langkah berikutnya. Ekoteologi diharapkan tumbuh bukan sekadar sebagai program tambahan, melainkan menjadi bagian dari budaya kerja dan pendekatan penyuluhan yang mampu menghubungkan nilai keagamaan dengan kepedulian terhadap lingkungan.
Dengan demikian, peran penyuluh menjadi semakin strategis dalam memperluas pesan ekoteologi. Dari lingkungan KUA, nilai tersebut dapat dibawa ke tengah keluarga, komunitas, dan masyarakat melalui kegiatan penyuluhan, sehingga kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti pada slogan, tetapi berkembang menjadi kesadaran dan gerakan bersama.
Coaching ke-4 pun menjadi salah satu tahapan penting bagi KUA Mergangsan untuk memastikan Program Ekoteologi terus bergerak, dievaluasi, dan dikembangkan. Komitmen keberlanjutan tersebut diharapkan mampu menghadirkan praktik baik yang tidak hanya berdampak pada lingkungan kerja, tetapi juga memperkuat kontribusi penyuluh agama dalam membangun masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. (HP)



