Kemenag Kota Yogya Dorong LPQ Jadi Pelopor Pengelolaan Sampah
Yogyakarta (Humas) –Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta terus memperkuat implementasi program ekoteologi melalui penguatan kesadaran lingkungan di lembaga pendidikan keagamaan. Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan Optimalisasi Pengelolaan Sampah di Lingkungan Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ) Kota Yogyakarta yang digelar Rabu (20/5/2026) di Kebon Ndelek Bausasran.
Kegiatan ini diikuti para ustadz dan ustadzah LPQ se-Kota Yogyakarta sebagai upaya membangun budaya peduli lingkungan sejak dini melalui lembaga pendidikan keagamaan. Para peserta juga mendapatkan pembekalan teknis terkait implementasi pengelolaan sampah dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta untuk diterapkan di lembaga masing-masing.

Plh Kasubbag TU Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta, H. M. Tahrir, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran para pendidik LPQ yang dinilai memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda, khususnya dalam membangun kesadaran menjaga kebersihan dan lingkungan.
“Terima kasih atas kehadiran ustadz dan ustadzah semua pada kegiatan ini. Kita menjadi bagian yang ikut berkontribusi bersama Pemerintah Kota Yogyakarta agar kemandirian tata kelola sampah benar-benar dapat dirasakan dan tidak menjadi persoalan bagi kita semua,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa LPQ memiliki posisi penting sebagai ruang pembelajaran karakter anak, termasuk membiasakan perilaku membuang dan mengelola sampah dengan baik sejak usia dini. Menurutnya, pembiasaan tersebut menjadi investasi jangka panjang dalam membangun mentalitas masyarakat yang peduli lingkungan.
“LPQ sangat strategis sebagai bagian pembelajaran anak-anak untuk membiasakan membuang sampah dan mengelola sampah dengan baik. Annadhofatu minal iman, kebersihan adalah sebagian dari iman. Karena itu kita harus peduli, mulai dari lingkungan sekitar hingga masyarakat luas,” katanya.
Lebih lanjut, Tahrir menjelaskan bahwa gerakan menjaga lingkungan juga sejalan dengan salah satu program prioritas Kementerian Agama RI, yakni ekoteologi. Melalui program tersebut, masyarakat didorong untuk merawat lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan dan kemanusiaan.
“Kita harus dapat merawat lingkungan sebaik-baiknya. Potensi sampah muncul ketika ada kegiatan perkumpulan. Karena itu mari kita minimalisir bersama,” imbuhnya.
Ia juga mengajak seluruh peserta mendukung gerakan “Jogja Olah Sampah” atau Mas Jos yang saat ini terus digaungkan Pemerintah Kota Yogyakarta. Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada kesadaran kolektif masyarakat yang dibangun secara berkelanjutan.
“Pembiasaan sejak dini sangat penting. Kehadiran bapak ibu dari lembaga pendidikan agama ini menjadi langkah strategis untuk membangun mentalitas peduli lingkungan. Ini bukan langkah pendek, tetapi membutuhkan proses dan waktu,” tandasnya.
Kegiatan kemudian dibuka secara resmi dengan pembacaan basmalah, dilanjutkan penyampaian materi implementasi pengelolaan sampah oleh narasumber dari DLH Kota Yogyakarta. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan mampu mengimplementasikan pengelolaan sampah secara mandiri di lingkungan LPQ masing-masing serta menjadi agen perubahan dalam membangun budaya hidup bersih dan ramah lingkungan di tengah masyarakat.(Nis)



