Berita

Kasih Allah Tak Berbatas, Penyuluh Katolik Dampingi Warga Binaan

Yogyakarta (Garakat) – Setiap orang memiliki kesempatan untuk kembali menata hidup dan menemukan jalan pertobatan. Pesan penuh harapan itu mengemuka dalam pembinaan iman bagi warga binaan (Wabin) yang diselenggarakan Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Yogyakarta, Selasa (27/10/2026).

Bekerja sama dengan Komunitas Persekutuan Doa Gereja Santo Yohanes Rasul Pringwulung, pembinaan iman kali ini dikemas dalam Perayaan Ekaristi Kudus yang dipimpin Romo Herman Yosep Bae Rua, Pr., imam Keuskupan Atambua, Nusa Tenggara Timur, yang sedang menempuh studi di Yogyakarta.

Dalam homilinya, Romo Herman mengajak para peserta mendalami makna kesetiaan dan ketaatan melalui bacaan Kitab Suci tentang relasi Kristus dengan Gereja-Nya. Ia menjelaskan bahwa kesetiaan merupakan bagian penting dari kehidupan iman, sebagaimana Allah senantiasa setia kepada umat-Nya.

“Ketika manusia tidak setia, Allah tetap setia karena Ia tidak dapat mengingkari janji-Nya,” ungkapnya.

Romo Herman menegaskan, kesetiaan dan ketaatan kerap kali diuji ketika seseorang berada pada titik terendah dalam hidupnya. Situasi sulit dapat menjadi kesempatan untuk kembali menyadari kasih Allah dan memperbaiki diri.

Ia pun mengajak warga binaan untuk tidak kehilangan harapan meskipun pernah melakukan kesalahan. Menurutnya, pengalaman hidup yang berat hendaknya menjadi ruang refleksi untuk memperbarui diri dan membangun hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan.

“Ketika kita tidak setia, Allah tetap setia menanti kita kembali melalui jalan pertobatan,” tuturnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa masa pembinaan bukan semata-mata waktu untuk menjalani konsekuensi atas perbuatan masa lalu, tetapi juga kesempatan untuk bertumbuh secara rohani, menemukan kembali nilai-nilai kehidupan, dan mempersiapkan diri menjalani masa depan yang lebih baik.

Melalui perayaan Ekaristi dan pendalaman iman, para peserta diajak untuk menyadari bahwa kasih Allah tetap terbuka bagi setiap orang yang mau kembali kepada-Nya. Harapan akan perubahan selalu memiliki tempat, termasuk dalam situasi kehidupan yang tidak mudah.

Kegiatan ini diikuti 23 peserta, terdiri atas 12 warga binaan, enam anggota kelompok doa dan MMK, satu pegawai Rutan, serta tiga penyuluh Agama Katolik Kankemenag Kota Yogyakarta, yakni FM Padari Djati Martiwi, S.H., Kristoforus Moses Jamwav, S.E., dan Edelbertus Jara, S.Fil.

Kehadiran penyuluh agama bersama komunitas gereja ini menjadi wujud kepedulian terhadap pendampingan rohani warga binaan. Melalui pelayanan yang penuh kasih dan tanpa menghakimi, pembinaan iman diharapkan dapat menumbuhkan semangat pertobatan, memperkuat iman, serta membangun keyakinan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan melangkah menuju kehidupan yang lebih baik.(ej)

Leave a Reply