Berita

Kafka Vadanta Ajak Murid MAN 1 Yogyakarta Bangun Personal Branding

Yogyakarta (MAN 1 Yogya) – Di tengah derasnya arus konten digital, kemampuan bercerita menjadi salah satu bekal penting bagi generasi muda untuk menarik perhatian dan membangun identitas diri. Pesan tersebut mengemuka dalam Training Motivasi peringatan Hari Sumpah Pemuda bagi murid kelas XI MAN 1 Yogyakarta, Rabu (28/10/2026), di aula madrasah.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber dengan latar belakang dan pengalaman berbeda, yakni Erik Hadi, S.Kom., M.Eng., dosen, motivator, sekaligus pakar komunikasi, serta Kafka Vadanta, pendiri Maximing Masa Muda, content creator, alumni MAN 1 Yogyakarta yang kini menempuh studi Ilmu Komunikasi di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Dalam sesi yang bertajuk “How to Make a Story so Good, People Stop Scrolling”, Kafka mengajak murid memahami kekuatan cerita untuk membangun personal branding melalui media sosial. Menurutnya, konten yang menarik tidak selalu harus berangkat dari peristiwa luar biasa. Pengalaman sehari-hari pun dapat menjadi cerita yang memikat apabila disampaikan dengan detail yang tepat.

“Kuncinya detail.” Semakin detail sebuah cerita, semakin besar peluang cerita tersebut terasa hidup dan dekat dengan audiens. Peristiwa sederhana dapat menjadi menarik ketika dikemas dengan sudut pandang yang kuat, alur yang jelas, dan detail yang membuat pembaca atau penonton merasa ikut mengalami kejadian tersebut.

Pesan ini mengajak murid untuk tidak sekadar menjadi konsumen konten, tetapi juga berani menjadi kreator yang mampu menyampaikan gagasan dan pengalaman secara bermakna. Media sosial dapat dimanfaatkan lebih dari sekadar ruang berbagi aktivitas. Platform digital juga membuka peluang bagi murid untuk menunjukkan minat, mengembangkan kreativitas, serta membangun citra diri yang positif.

Untuk membantu peserta memahami cara menyusun cerita, Kafka memperkenalkan The Dan Harmon Story Circle, sebuah kerangka penceritaan yang terdiri atas delapan tahapan. Cerita dimulai dari You, ketika karakter berada di zona nyaman; dilanjutkan Need, saat muncul keinginan atau kebutuhan; kemudian Go, ketika karakter memasuki situasi baru; dan Search, yaitu proses beradaptasi, mencoba, serta menghadapi kesalahan.

Tahapan berikutnya adalah Find, ketika karakter menemukan hal yang dicari; Take, saat ia harus menghadapi konsekuensi atau harga dari pilihannya; Return, ketika karakter kembali ke situasi awal; dan Change, yang menandai perubahan setelah melalui pengalaman tersebut.

Melalui kerangka ini, peserta diajak memahami bahwa cerita yang kuat tidak hanya berisi rangkaian kejadian, tetapi juga perjalanan, tantangan, dan perubahan. Pola tersebut dapat diterapkan dalam berbagai bentuk konten, mulai dari video pendek, reportase, hingga cerita personal yang dibagikan melalui media sosial.

Materi kemudian berlanjut ke sesi Make Your Story. Kafka mengajak seorang peserta untuk menjadi sukarelawan dan membuat reportase berdasarkan gambar yang ditampilkan. Aktivitas ini memberi kesempatan kepada peserta untuk menerapkan materi secara langsung, mengolah detail visual menjadi informasi, serta menyusunnya menjadi cerita yang menarik.

Antusiasme peserta juga terlihat dalam sesi tanya jawab. Beragam pertanyaan muncul, mencerminkan persoalan yang dekat dengan kehidupan peserta, mulai dari tantangan dalam membuat konten hingga cara mengembangkan diri di tengah lingkungan digital yang terus berubah. Interaksi tersebut menjadikan kegiatan bukan sekadar penyampaian materi satu arah, melainkan ruang untuk bertukar gagasan dan mencari solusi.

Sebelumnya, Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya mengajak murid menjadikan tantangan sebagai peluang untuk bertumbuh. Ia juga mengingatkan pentingnya memanfaatkan pembelajaran dari kehidupan sebagai bekal untuk menjadi generasi emas.

“Jadikan tantangan yang ada sebagai peluang. Melalui ayat-ayat kauniyah, kalian dapat belajar memahami kehidupan dan mempersiapkan diri menjadi generasi emas. Pastikan langkah yang kalian tempuh adalah langkah yang baik, dan yang tidak kalah penting, jagalah konsistensi,” pesannya.

Melalui kegiatan ini, MAN 1 Yogyakarta mendorong murid untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, kreativitas, dan kepercayaan diri sebagai bagian dari kesiapan menghadapi masa depan. Keterampilan bercerita dan membangun personal branding menjadi bekal yang relevan bagi generasi muda, baik untuk mengembangkan potensi maupun membuka peluang di dunia pendidikan dan profesional.

Sebab, di era ketika perhatian mudah beralih dari satu konten ke konten lainnya, kemampuan menyampaikan cerita yang bermakna dapat menjadi pembeda. Bagi murid, langkah awalnya bisa sederhana: belajar mengamati, menemukan detail, dan berani menceritakan pengalaman dengan cara yang autentik. (dee)

Leave a Reply