Jangan Tunggu Hancur untuk Bersimpuh kepada Nya

Ada sebuah kenyataan yang sering terjadi dalam hidup manusia. Ketika kesulitan datang, ketika usaha merugi, kesehatan terganggu, atau harapan terasa runtuh, kita menjadi sangat dekat dengan Allah. Doa-doa dipanjatkan dengan penuh harap, air mata mengalir dalam sujud, dan Al-Qur’an terasa begitu menenangkan.
Namun ketika keadaan membaik, rezeki dilapangkan, dan cita-cita tercapai, tidak sedikit yang kembali larut dalam kesibukan dunia hingga melupakan Allah. Ada sebuah ungkapan yang menyentuh:
“Tuhan begitu dekat ketika kita susah, dan terasa jauh ketika kita senang.”
Padahal bukan Allah yang menjauh. Allah berfirman:
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qāf: 16)
Yang berubah adalah hati kita. Ketika susah ia mencari Allah, tetapi ketika nikmat datang ia sering melupakan-Nya. Allah menggambarkan keadaan ini dalam firman Nya:
وَاِذَا مَسَّ الْاِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْۢبِهٖٓ اَوْ قَاعِدًا اَوْ قَاۤىِٕمًاۚ فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهٗ مَرَّ كَاَنْ لَّمْ يَدْعُنَآ اِلٰى ضُرٍّ مَّسَّهٗ
“Apabila manusia ditimpa bahaya, ia berdoa kepada Kami. Namun ketika Kami hilangkan bahaya itu darinya, ia berlalu seakan tidak pernah berdoa kepada Kami.” (QS. Yūnus: 12)
Karena itu, jangan menunggu hancur untuk bersujud. Jangan menunggu sakit untuk berdoa. Jangan menunggu kehilangan untuk kembali kepada Allah, sebagaimana Allah telah berfirman:
وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
“Bertobatlah kamu semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung.” (QS. An-Nūr: 31).
Pepatah Arab menyatakan:
بَادِرِ الْفُرْصَةَ قَبْلَ أَنْ تَكُوْنَ غُصَّةً
“Segeralah manfaatkan kesempatan sebelum ia berubah menjadi penyesalan.”
Hari ini kita masih dapat mendengar azan, masih mampu bersujud, dan masih diberi kesempatan memperbaiki diri. Tidak ada yang tahu apakah kesempatan itu masih ada esok hari.
التُّؤَدَةُ فِي كُلِّ شَيْءٍ خَيْرٌ إِلَّا فِي عَمَلِ الْآخِرَةِ
“Berlahan-lahan itu baik dalam banyak urusan, kecuali dalam urusan akhirat.”
Dalam urusan dunia kita boleh menunggu waktu yang tepat. Namun dalam urusan taubat dan amal saleh, penundaan sering kali menjadi awal penyesalan.
Begitu pula ketika kita mengetahui ada sesuatu yang tidak baik bagi agama dan kehidupan kita, jangan ragu meninggalkannya. Sebagaimana nasihat para ulama:
تَرْكُ مَا لَا يَصْلُحُ أَصْلَحُ
“Meninggalkan sesuatu yang tidak baik, itulah yang lebih baik.”
Islam tidak melarang kita mengejar dunia. Bahkan kita diajarkan untuk mempersiapkannya dengan sungguh-sungguh. Namun jangan sampai dunia membuat kita lalai dari akhirat.
اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيْشُ أَبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا
“Beramallah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau mati esok hari.”
Banyak orang berubah setelah musibah datang. Padahal yang lebih mulia adalah mereka yang mengingat Allah sebelum musibah itu datang. Bersyukur ketika lapang, beribadah ketika sehat, dan tetap dekat dengan Allah ketika segala urusan berjalan baik. Maka jangan tunggu hancur untuk besujud, sebab bisa jadi suatu hari kita masih memiliki keinginan untuk bertaubat, tetapi tidak lagi memiliki kesempatan.
Maka pulanglah kepada Allah sebelum terpaksa pulang kepada-Nya. Wallahu a’lam.
Penulis: Hilman Abdullah, S.Hum (Guru MAN 1 Yogyakarta)



