Artikel

Kewajiban Zakat dan Hikmahnya

Zaenal Syarifuddin

ZAKAT secara bahasa artinya suci, berkah dan tumbuh. Pengertian ini selaras dengan hikmah yang terkandung di dalamnya. Sebab zakat akan mensucikan jiwa dan harta muzakki, serta memberikan keberkahan dan akan membuatnya “tumbuh” dan berkembang. Secara syaríl, zakat dimaknai sebagai kewajiban atas diri seorang muslim untuk mengeluarkan kadar tertentu hartanya yang diberikan kepada pihak tertentu dengan syarat-syarat tertentu pula. Allah berfirman; “Ambillah zakat dari harta mereka, guna. membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103).

Allah sangat mencela orang-orang yang enggan membayar zakat sementara ia mampu menunaikannya. Nabi juga menyampaikan ancaman bagi mereka yang tidak mau menunaikan zakat dalam sabdanya; “Barangsiapa diberi harta oleh Allah, lalu dia tidak menunaikan zakatnya, maka pada hari kiamat hartanya dijadikan untuknya menjadi seekor ular jantan aqrai yang berbusa dua sudut mulutnya. Ular itu dikalungkan (di lehemya) pada hari kiamat. Ular itu memegang dengan kedua sudut mulutnya, lalu ular itu berkata; Saya adalah hartamu, saya adalah simpananmu” (HR. Bukhari no. 1403).

Zakat terdiri dari dua macam. Pertama adalah zakat fitri/fitrah, zakat jiwa. la ditunaikan menjelang hari raya Idul Fitri berupa bahan makanan pokok senilai satu shof atas setiap jiwa yang mampu menunaikannya. Zakat fitri diprioritaskan untuk dibagikan bagi fakir miskin agar mereka memperoleh kebahagiaan di hari raya. Kedua adalah zakat mal (zakat harta). la dikeluarkan oleh mereka yang memiliki harta tertentu yang telah mencapai nishab dan haul-nya. Zakat mal diberikan bagi delapan kelompok/ashnaf yang menjadi mustahiq-nya, yaitu fakir, miskin, amil, muallaf, riqab (kepentingan memerdekakan budak), gharim (orang yang dililit hutang), fi sabilillah dan ibnu sabil (orang yang kehabisan bekal di perjalanan).

Dalam khazanah fikih disebutkan beberapa macam harta yang wajib dizakati seperti emas dan perak, hasil pertanian pangan, peternakan, perdagangan, rikaz dan barang tambang. Namun sesungguhnya pada prinsipnya segala penghasilan yang didapatkan dengan cara yang halal dan telah memenuhi syarat wajibnya maka hakikatnya wajiblah untuk dizakati. Sebagaimana kandungan umum firman Allah; “Hai orang-orang yang beriman nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Baqarah: 267).

Segala syariat dan perintah Allah tentu terkandung hikmah yang agung di dalamnya. Syariat zakat juga memiliki banyak hikmah bagi umat manusia. Di antaranya zakat akan menjaga harta muzakki. Nabi bersabda dalam sebuah hadits; “Jagalah harta kalian dengan zakat”. Kemudian zakat juga akan membersihkan jiwa dari kecintaan yang berlebihan kepada harta dan dari sifat kikir. Zakat juga merupakan perwujudan rasa syukur atas karunia Allah dan kesadaran atas amanah Allah berupa harta. la juga menumbuhkan kepekaan sosial dan kepedulian serta cinta kasih kepada sesama. Dengan pengelolaan yang baik, zakat dapat pula menjadi salah satu instrumen penting dalam pengentasan kemiskinan di tengah umat. (*)

Zaenal Syarifudin SHI MSI, Kepala KUA Mergangsan Yogyakarta