Itqan Perkuat Kolaborasi KUA Wirobrajan Layani Masyarakat

Yogyakarta (KUA Wirobrajan)–KUA Wirobrajan terus menguatkan budaya kerja profesional berbasis nilai-nilai keagamaan melalui partisipasi aktif dalam Pengajian Forum Koordinasi Pimpinan Kemantren (Forkopimtren) Wirobrajan yang digelar di Ruang Bugis Kemantren Wirobrajan, Senin (27/7/26). Kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk mempererat sinergi lintas sektor, memperkokoh silaturahmi antarlembaga, sekaligus memperkuat nilai spiritual aparatur sebagai fondasi pelayanan publik yang semakin berkualitas, humanis, dan berdampak.
Keikutsertaan KUA Wirobrajan dalam forum tersebut merupakan wujud komitmen mendukung terbangunnya tata kelola pemerintahan yang kolaboratif. Sinergi antara unsur Forkopimtren, instansi pemerintah, dan tokoh masyarakat dinilai menjadi modal penting dalam menghadirkan pelayanan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, KUA Wirobrajan mengambil peran melalui Penyuluh Agama Islam. Kegiatan diawali dengan tadarus Al-Qur’an Surah Al-Infithar dan Al-Muthaffifin yang dipandu oleh Rachimatullaili. Lantunan ayat suci Al-Qur’an menghadirkan suasana khusyuk sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap aktivitas pengabdian hendaknya diawali dengan memperkuat hubungan kepada Allah SWT.
Kajian inti disampaikan oleh Agus Saiful Bahri, S.Ag., M.S.I. dengan tema “Bekerja Tuntas dan Sungguh-sungguh (Itqan)”. Dalam tausiyahnya, ia menegaskan bahwa profesionalisme merupakan bagian dari ajaran Islam yang harus diwujudkan dalam setiap bentuk pekerjaan.
Ia mengutip sabda Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila mengerjakan suatu pekerjaan, ia menyempurnakannya (itqan).” (HR. Al-Baihaqi).

Menurut Agus Saiful Bahri, nilai itqan mengajarkan bahwa setiap profesi, baik sebagai aparat keamanan, tenaga kesehatan, pendidik, pedagang, petani, aparatur sipil negara, maupun ibu rumah tangga, memiliki kemuliaan apabila dijalankan dengan niat ibadah, penuh tanggung jawab, profesional, jujur, dan ikhlas karena Allah SWT. Dengan demikian, setiap pekerjaan tidak hanya menghasilkan manfaat bagi diri sendiri, tetapi juga memberikan kemaslahatan bagi sesama, kehidupan bermasyarakat, serta menjaga kelestarian alam sebagai amanah Allah SWT.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa budaya kerja itqan memiliki tiga dimensi utama. Pertama, dimensi spiritual melalui muraqabah, yakni kesadaran bahwa setiap aktivitas senantiasa berada dalam pengawasan Allah SWT sehingga mendorong lahirnya keikhlasan dan tanggung jawab. Kedua, dimensi etis yang diwujudkan melalui integritas, amanah, dan kejujuran dalam setiap pelaksanaan tugas. Ketiga, dimensi profesional, yaitu menyelesaikan pekerjaan secara tuntas, tepat, berkualitas, dan akuntabel sehingga mampu menghadirkan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
Bagi KUA Wirobrajan, nilai itqan tidak hanya menjadi materi kajian, tetapi juga menjadi budaya kerja yang terus ditanamkan dalam pelaksanaan tugas dan pelayanan keagamaan. Semangat tersebut sejalan dengan komitmen KUA untuk menghadirkan layanan yang profesional, adaptif, serta mampu menjawab kebutuhan masyarakat melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
Melalui keikutsertaan dalam Pengajian Forkopimtren, KUA Wirobrajan kembali menegaskan komitmennya memperkuat sinergi lintas sektor sebagai fondasi membangun pelayanan keagamaan yang semakin berkualitas. Dengan menjadikan itqan sebagai budaya kerja, setiap bentuk pengabdian diharapkan tidak hanya menghasilkan kinerja yang unggul dan berdampak nyata bagi masyarakat, tetapi juga bernilai ibadah sebagai wujud tanggung jawab kepada Allah SWT.(Saiful)



