Berita

Hikmah Syawalan: Filosofi Ketupat “Ngaku Lepat” dalam Polisi Dalam Doa (PDD)

Yogyakarta — Suasana khidmat menyelimuti kegiatan Polisi Dalam Doa (PDD) yang dilaksanakan pada Rabu (15/04/2026) di Masjid Al Fatah Polsek Wirobrajan. Kegiatan ini menghadirkan Penyuluh Agama Islam KUA Wirobrajan, Berlin Sunardi, sebagai penceramah.

Acara diawali dengan pembacaan Surah Yasin dan doa yang dipimpin langsung oleh Berlin Sunardi, diikuti oleh seluruh anggota kepolisian dengan penuh kekhusyukan. Momentum ini menjadi sarana spiritual untuk memperkuat keimanan sekaligus mempererat kebersamaan di bulan Syawal.

Dalam tausiyahnya, Berlin Sunardi mengangkat hikmah Syawalan melalui filosofi ketupat “ngaku lepat”, yang berarti mengakui kesalahan. Ia menjelaskan bahwa tradisi tersebut mengandung nilai mendalam tentang pentingnya introspeksi diri dan saling memaafkan.

“Syawalan bukan sekadar tradisi, tetapi momentum untuk membersihkan diri dari kesalahan, memperbaiki hubungan, serta meningkatkan kualitas ibadah dan pengabdian, termasuk dalam menjalankan tugas sebagai pelayan masyarakat,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia mengajak seluruh peserta untuk menjadikan nilai-nilai Syawalan sebagai landasan dalam menjalankan tugas dengan penuh keikhlasan, integritas, dan tanggung jawab.

Melalui kegiatan Polisi Dalam Doa ini, diharapkan para anggota kepolisian semakin memiliki kekuatan spiritual sehingga mampu menjalankan tugas dengan hati yang bersih serta memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.[ekoAW]