Di Hadapan Wabin, Pastor Herman: Dalam Situasi Sulit Pertanyaannya Bukan “Mengapa”, tetapi “Untuk Apa”

Yogyakarta (Garakat) – Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta berkolaborasi dengan Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) Gereja Santo Yohanes Rasul Pringwulung dalam kegiatan pembinaan iman bagi warga binaan Rumah Tahanan Kelas IIA Yogyakarta, Selasa (9/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Gereja Kasih Kristus Rutan Kelas IIA Yogyakarta tersebut dikemas dalam bentuk Ibadat Sabda yang dipimpin oleh Ibu Anna. Persekutuan Doa Karismatik Katolik hadir bersama Pastor Herman Y.B. Rua untuk memberikan penguatan rohani kepada para warga binaan.
Ibadat diawali dengan pembacaan Firman Tuhan yang diambil dari Mazmur 139. Bacaan tersebut dibacakan secara bersama-sama oleh seluruh peserta, kemudian dilanjutkan dengan renungan yang disampaikan oleh Pastor Herman Y.B. Rua, Imam Projo Keuskupan Atambua yang saat ini sedang menempuh studi di Yogyakarta.
Dalam renungannya, Pastor Herman menjelaskan bahwa Mazmur 139 merupakan doa yang menggambarkan kemahatahuan Allah. Tidak ada satu pun peristiwa dalam kehidupan manusia yang luput dari perhatian-Nya.
“Mazmur 139 mengajarkan bahwa Allah mengenal kita secara utuh. Apa pun yang kita lakukan dan di mana pun kita berada, Allah mengetahui semuanya,” ungkap Pastor Herman.
Kepada para warga binaan, Pastor Herman mengajak untuk memandang masa sulit bukan sebagai akhir dari segalanya, melainkan sebagai kesempatan untuk berefleksi dan menemukan makna baru dalam hidup.
“Ketika berada dalam situasi sulit, termasuk saat menjalani masa pembinaan di rutan, pertanyaannya bukan ‘Kenapa semua ini terjadi pada saya?’ Jika pertanyaannya demikian, sering kali yang muncul adalah deretan kesalahan orang lain, bahkan menyalahkan Tuhan. Tetapi pertanyaan yang tepat adalah, ‘Untuk apa saya berada di sini? Untuk apa pengalaman ini bagi hidup saya?'” tuturnya.
Menurutnya, pertanyaan tersebut akan membantu seseorang menemukan visi, tujuan, dan niat baru untuk menjalani hidup sesuai dengan kehendak Allah. Melalui proses refleksi yang jujur, seseorang dapat membuka diri terhadap karya Tuhan yang membimbing pada pertobatan dan pembaruan hidup.
Ia pun mengajak seluruh peserta untuk berani datang kepada Tuhan dengan doa sebagaimana tertulis dalam Mazmur 139, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal.”
Setelah Ibadat Sabda selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi berbagi pengalaman antar peserta dalam suasana kekeluargaan sambil menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh Persekutuan Doa Karismatik Katolik Gereja Santo Yohanes Rasul Pringwulung.
Pembinaan iman tersebut diikuti oleh 19 peserta, terdiri atas 10 warga binaan, dua orang perwakilan Masyarakat Mitra Kementerian (MMK), empat anggota PDKK Gereja Santo Yohanes Rasul Pringwulung, Pastor Herman Y.B. Rua, serta dua Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kota Yogyakarta, yaitu Kristoforus Moses Jamwav dan Edelbertus Jara.
Melalui kegiatan pembinaan iman yang dilaksanakan secara berkelanjutan, Kementerian Agama Kota Yogyakarta terus berupaya menghadirkan layanan keagamaan yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat, termasuk warga binaan pemasyarakatan. Diharapkan, pembinaan ini dapat menjadi sarana penguatan spiritual sekaligus menumbuhkan harapan serta semangat untuk menjalani hidup yang lebih baik di masa depan.(ej)



