Bukan Sekadar Menyuluh, Penyuluh Agama Hadir Menguatkan Asa Para Simbah

Yogyakarta (KUA Wirobrajan) — Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta kembali hadir menyapa dan menguatkan para lansia di RPSLUT Budhi Dharma Giwangan, Rabu (2/9/2026). Kegiatan pembinaan keagamaan tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan.
Kegiatan diawali dengan lantunan sholawat dan doa, dilanjutkan dengan hafalan surat-surat pendek. Para simbah kemudian mengikuti pembelajaran Al-Qur’an dan kegiatan hafalan sebagai bagian dari penguatan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai keagamaan.
Namun, kehadiran penyuluh tidak berhenti pada kegiatan belajar-mengajar. Di tengah aktivitas pembinaan, penyuluh juga hadir untuk mendengar. Cerita, keluh kesah, maupun berbagai hal yang ingin disampaikan para simbah menjadi bagian dari interaksi yang dibangun.
Bagi penyuluh, mendengar merupakan bentuk kepedulian. Tidak semua kebutuhan para lansia dapat disampaikan melalui kata-kata dalam forum bersama. Karena itu, bagi mereka yang tidak dapat hadir di aula, penyuluh menyambangi langsung ke kamar.
Mereka disapa, didengarkan, dan dikuatkan. Kehadiran tersebut menjadi ruang bagi para simbah untuk berbagi sekaligus merasakan bahwa mereka tetap diperhatikan dan ditemani.
Dakwah dalam konteks tersebut tidak sekadar menyampaikan pesan agama, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai kepedulian, empati, dan kasih sayang. Penyuluh tidak hanya berperan sebagai penyampai materi keagamaan, tetapi juga menjadi pendamping yang hadir bersama masyarakat dalam berbagai kondisi kehidupan.
Satu kunjungan mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi seseorang yang membutuhkan perhatian, sapaan dan waktu untuk didengarkan dapat menjadi sesuatu yang sangat berarti. Bahkan, kehadiran singkat dapat menjadi alasan untuk kembali tersenyum dan menumbuhkan harapan.
Melalui kegiatan pembinaan yang dilakukan secara rutin dan penuh kepedulian, Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Yogyakarta terus berupaya menghadirkan dakwah yang humanis, menyentuh, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Sebab, menyuluh bukan hanya tentang menyampaikan pesan agama, tetapi juga tentang hadir, mendengar, menguatkan, dan menemani.[ekoAW]



