Bawa Pesan QS. Al-A’raf 189 di Ndalem Suryowijayan, Penghulu KUA Mantrijeron Beberkan Formula Rahasia Sakinah Lewat Psikologi Praktis

YOGYAKARTA — Suasana khidmat dan penuh kehangatan mewarnai prosesi akad nikah pasangan Aristianto dan Beti Sofiana Saputri yang digelar di Ndalem Suryowijayan MJ I/340, Ahad (26/7/2026). Dalam kesempatan tersebut, Penghulu dari KUA Mantrijeron, Mu’inan, S.H.I., M.S.I., hadir memimpin jalannya akad sekaligus menyampaikan nasihat pernikahan dengan pendekatan unik yang memadukan kedalaman nilai Al-Qur’an dan psikologi praktis.
Di hadapan kedua mempelai dan para tamu undangan, Mu’inan membedah frasa Al-Qur’an surat al-A’raf ayat 189, “min nafsin wahidah” (dari jiwa yang satu) dan “liyaskuna ilaiha” (agar merasa tenang). Menurutnya, dua kalimat tersebut merupakan formula blueprint atau cetak biru hubungan suami istri yang luar biasa.
“Dalam ilmu psikologi kepribadian, watak manusia itu sangat dinamis. Ada yang berwatak dominan-ekspresif, ada yang tenang-analitis. Ada yang menemukan energi lewat keramaian, ada pula yang menemukan ketenangan dalam keheningan,” ujar Penghulu KUA Mantrijeron tersebut dalam nasihatnya.
Lebih lanjut, dalam khutbah singkatnya, Mu’inan menjelaskan tiga pilar penting bagaimana kesamaan dan perbedaan watak dapat menciptakan ketenangan (sakinah) dalam rumah tangga:
1. Kesamaan Frekuensi Nilai (The Core Similarity)
Secara psikologis, manusia tidak akan bisa nyaman hidup bersama dalam jangka panjang tanpa adanya kesamaan frekuensi. Kesamaan yang dimaksud dalam frasa min nafsin wahidah bukanlah kesamaan hobi atau sifat dasar, melainkan nilai-nilai hidup (core values). Pasangan disatukan karena memiliki kesamaan standar moral, pandangan masa depan, dan komitmen untuk setia. Hal itulah yang memunculkan rasa aman dan keterikatan emosional secara alami saat berkomunikasi.
2. Hukum Komplementer: Berbeda untuk Menggenapkan (The Complementary Law)
Setelah menyamakan nilai dasar, Allah SWT melengkapinya dengan membedakan watak praktis pasangannya melalui kalimat “wa ja’ala minha zaujaha”. Dalam sudut pandang psikologi, perbedaan ini dirancang bukan untuk memicu konflik, melainkan demi efisiensi fungsi rumah tangga. “Jika yang satu tipe pemikir detail, Allah SWT sering kali memasangkannya dengan tipe eksekutor yang optimis dan cepat bertindak. Begitu pula jika yang satu mudah cemas, Allah sandingkan dengan pasangan yang pembawaannya tenang,” papar Mu’inan dengan kalimat yang meyakinkan. Ia menegaskan, jika kedua pasangan sama-sama dominan, rumah tangga bisa menjadi medan pertempuran ego; sebaliknya jika keduanya sama-sama pasif, bahtera rumah tangga tidak akan pernah berjalan maju.
3. Aplikasi Praktis untuk Meraih Sakinah
Untuk mencapai target liyaskuna ilaiha, kunci utamanya terletak pada penerimaan (acceptance).
• Bagi Suami: Diimbau untuk tidak memaksa istri menjadi seperti dirinya, melainkan memahami bahasa kasih dan watak dasarnya, karena ketenangan istri adalah kunci ketenangan rumah.
• Bagi Istri: Diingatkan agar tidak menuntut suami membaca pikiran. Secara psikologis, laki-laki didesain sebagai pemecah masalah (problem solver) yang logis, bukan pembaca isyarat magis. Komunikasi yang jelas dan santun menjadi kuncinya.
Menutup khutbah nikahnya, Penghulu KUA Mantrijeron tersebut berpesan kepada Aristianto dan Beti Sofiana Saputri agar menjadikan pasangan sebagai cermin terbaik. “Saat engkau melihat watak pasanganmu yang berbeda denganmu, katakan dalam hati: ‘Inilah cara Allah melengkapi kekuranganku, agar kami bisa melangkah bersama menuju surga-Nya,’” pungkas Mu’inan, disambut rasa haru dan khidmat dari kedua mempelai beserta keluarga besar yang hadir. (m.uin@n)



