Ziarah Rohani di Gua Maria Tritis, Meneladani Ketaatan Maria

Gunungkidul (Garakat) — Bulan Rosario menjadi momentum bagi umat Katolik untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan melalui doa dan penghormatan kepada Bunda Maria. Semangat tersebut turut dihayati sepuluh staf Penyelenggara Katolik Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta melalui ziarah rohani ke Gua Maria Tritis, Kabupaten Gunungkidul, Rabu (7/10/2026).
Ziarah rohani ini menjadi ruang untuk sejenak meninggalkan rutinitas pekerjaan, memperdalam kehidupan iman, sekaligus membangun kebersamaan dalam suasana yang sederhana dan penuh kekeluargaan.
Bagi umat Katolik, Maria merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah keselamatan manusia. Ketaatannya kepada kehendak Allah menjadi teladan kehidupan beriman. Jika Hawa lama digambarkan jatuh dalam dosa karena ketidaktaatan, Maria sebagai “Hawa baru” justru menunjukkan sikap taat ketika menerima kehendak Tuhan.
“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu,” demikian ungkapan Maria dalam Lukas 1:38 yang menjadi salah satu refleksi dalam ziarah tersebut.
Spirit ketaatan Maria itulah yang dihayati para peserta. Ziarah tidak sekadar menjadi perjalanan menuju tempat doa, tetapi juga kesempatan untuk merefleksikan kembali panggilan, pengabdian, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Rangkaian kegiatan di Gua Maria Tritis diisi dengan Ibadah Jalan Salib dan Doa Rosario. Suasana semakin bermakna dengan digelarnya acara pelepasan dan syukuran bagi Katarina Hariningtyas, S.Kom., yang kini mendapat amanah baru bertugas di Pembimas Katolik Kanwil Kementerian Agama DIY.
Penyelenggara Katolik Kankemenag Kota Yogyakarta, V. Tatik Trijati Ningsih, S.IP., M.Sc., menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kebersamaan Katarina selama menjadi bagian dari Gara Katolik dan Kankemenag Kota Yogyakarta.
“Mbak Katrin, terima kasih sudah bersama kami selama ini. Selamat mengemban tugas baru di Pembimas Katolik Kanwil Kemenag DIY. Semoga selalu diberi kelancaran dalam menjalankan tugas dan terus berkembang dalam karier. Kami mendukung dan mendoakan dalam menjalani dinamika serta amanah baru di sana,” ungkap Tatik.
Momen pelepasan tersebut berlangsung hangat. Perpindahan tugas tidak dipandang sebagai akhir dari sebuah kebersamaan, melainkan bagian dari perjalanan pengabdian yang mempertemukan banyak orang dalam satu semangat pelayanan.
Usai rangkaian ziarah dan syukuran, rombongan melanjutkan kegiatan dengan makan siang bersama di kawasan Pantai Ngobaran. Suasana kebersamaan semakin terasa dalam perjalanan pulang ketika rombongan menyempatkan diri memenuhi undangan keluarga Tatik untuk mampir sejenak.
Rombongan diterima dengan hangat oleh keluarga Tatik, menikmati hidangan yang telah disiapkan, berbincang dalam suasana kekeluargaan, dan mengabadikan kebersamaan melalui foto bersama sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju Kota Yogyakarta.
Ziarah rohani pun menjadi lebih dari sekadar perjalanan. Ia menjadi ruang untuk berdoa, berefleksi, menguatkan persaudaraan, sekaligus melepas seorang rekan menuju tempat tugas yang baru—dengan doa dan harapan agar setiap langkah pengabdian senantiasa membawa kebaikan.(ej)



