Wirobrajan Juara Umum STQH 2026, Kemenag dan Pemkot Yogyakarta Perkuat Kolaborasi Membangun Masyarakat Qur’ani

Yogyakarta (Humas) — Kecamatan Wirobrajan tampil sebagai juara umum Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadits (STQH) Tingkat Kota Yogyakarta Tahun 2026. Prestasi tersebut menjadi penutup rangkaian STQH yang sekaligus menegaskan komitmen bersama Pemerintah Kota Yogyakarta dan Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta dalam memperkuat kehidupan keagamaan serta membangun masyarakat yang semakin religius dan Qur’ani.
Piala juara umum diserahkan oleh Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Yogyakarta, Hilmi Arifin, didampingi Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta, Ahmad Shidqi, pada penutupan STQH Kota Yogyakarta, Sabtu (5/9/2026).
Wirobrajan berhasil menempati posisi teratas setelah para kafilahnya menunjukkan prestasi di sejumlah cabang STQH. Capaian tersebut antara lain ditopang kemenangan pada cabang Tilawah Anak-Anak Putra, Tilawah Dewasa Putri, Tahfidz 20 Juz Putra, dan Tahfidz 20 Juz Putri, serta sejumlah prestasi lainnya.

Keberhasilan Wirobrajan menjadi juara umum tidak sekadar menjadi catatan kompetisi, tetapi juga menggambarkan tumbuhnya pembinaan Al-Qur’an dan hadis di tengah masyarakat. Dari 14 kemantren yang mengikuti STQH, para peserta menunjukkan kualitas dan kesungguhan dalam mendalami Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW.
Dalam momentum tersebut, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta Ahmad Shidqi turut menjadi bagian penting dari ikhtiar bersama dalam penguatan pembinaan keagamaan di Kota Yogyakarta. Kemenag Kota Yogyakarta terus mendorong agar STQH tidak berhenti sebagai agenda seleksi dan perlombaan, melainkan menjadi bagian dari proses pembinaan generasi Qur’ani secara berkelanjutan.
Semangat tersebut berjalan seiring dengan kolaborasi Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta bersama Pemerintah Kota Yogyakarta dan Wali Kota Yogyakarta dalam meningkatkan religiusitas masyarakat. STQH menjadi salah satu ruang untuk memperkuat sinergi tersebut, sekaligus menghadirkan kegiatan keagamaan yang menyentuh generasi muda, keluarga, lembaga pendidikan, masjid, musala, hingga lingkungan masyarakat.
Dalam sambutan penutupan, Hilmi Arifin menegaskan bahwa keberhasilan STQH tidak boleh berhenti pada siapa yang memperoleh nilai tertinggi. Al-Qur’an dan hadis harus hadir dalam kehidupan sehari-hari dan tercermin dalam perilaku masyarakat.
“Al-Qur’an hadir untuk dibaca, dipahami, dihayati, kemudian diwujudkan dalam akhlak dan kehidupan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa setelah rangkaian STQH berakhir, semangat Al-Qur’an justru harus terus dibawa ke tengah kehidupan masyarakat.
“Jangan biarkan gema Al-Qur’an ikut selesai. Bawalah pulang semangat itu ke rumah, sekolah, kampus, tempat kerja, kampung dan lingkungan masing-masing,” pesannya.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat pembinaan yang terus didorong Kemenag Kota Yogyakarta bersama Pemkot Yogyakarta. Prestasi para peserta diharapkan menjadi pintu masuk untuk memperluas gerakan pembelajaran, penghayatan, dan pengamalan Al-Qur’an serta hadis di berbagai lapisan masyarakat.
Bagi para juara, prestasi STQH 2026 menjadi amanah untuk terus meningkatkan kemampuan dan mempersiapkan diri membawa nama Kota Yogyakarta ke tingkat yang lebih tinggi. Sementara bagi peserta yang belum meraih juara, proses belajar yang telah dilalui tetap menjadi bagian penting dari perjalanan mendekatkan diri kepada Al-Qur’an.

Dengan lahirnya Wirobrajan sebagai juara umum STQH Kota Yogyakarta 2026, rangkaian kegiatan ini tidak hanya menghasilkan para juara, tetapi juga memperkuat pesan bahwa pembangunan religiusitas masyarakat membutuhkan kolaborasi, pembinaan yang berkelanjutan, dan keterlibatan seluruh unsur pemerintah serta masyarakat.
Bagi Kemenag Kota Yogyakarta, STQH pada akhirnya bukan sekadar tentang piala. Lebih dari itu, STQH adalah ikhtiar bersama menghadirkan masyarakat Kota Yogyakarta yang Qur’ani, berilmu, berakhlak, rukun, dan membawa kemaslahatan bagi sesama.(Nis)



