Setetes Nira Tanah Baduy dan Pelajaran tentang Ketekunan bagi Guru MAN 1 Yogyakarta

Banten (MAN 1 Yogya) – Meniti lereng menuju pohon aren menjadi salah satu pengalaman berkesan dalam rangkaian Belajar Budaya Baduy di hari pertama, 22 Agustus 2026, yang diikuti Suci Ambar Wati, Guru sejarah MAN 1 Yogyakarta. Bagi masyarakat Baduy, perjalanan melewati medan menanjak dan cukup terjal merupakan bagian dari keseharian. Namun, bagi peserta, perjalanan tersebut menghadirkan pengalaman baru untuk melihat lebih dekat bagaimana masyarakat memanfaatkan alam sebagai bagian dari kehidupan.
Langkah demi langkah menuju pohon aren ditempuh dengan medan yang tidak selalu mudah. Rasa lelah berpadu dengan suasana alam Baduy yang masih asri. Di sepanjang perjalanan, peserta dapat menikmati aliran sungai yang jernih dan mata air yang mengalir di antara hijaunya pepohonan. Pemandangan tersebut membuat perjalanan terasa lebih menyenangkan sekaligus menghadirkan kekaguman terhadap alam yang tetap terjaga.

Sesampainya di pohon aren, peserta menyaksikan proses pengambilan nira. Nira yang telah diperoleh kemudian dibawa menuju tempat pengolahan yang berada di lokasi berbeda. Perjalanan kembali dengan medan yang cukup menantang kembali ditempuh hingga tiba di tempat pemasakan. Di sana, nira dimasak selama kurang lebih dua jam. Prosesnya membutuhkan kesabaran hingga cairan nira perlahan mengental dan siap dicetak. Setelah itu, proses pencetakan gula aren berlangsung sekitar 10 menit hingga menghasilkan gula yang siap dinikmati.
Menariknya, gula aren yang dihasilkan dari proses tersebut kemudian dibagikan kepada seluruh peserta sebagai oleh-oleh dari pengalaman belajar di Baduy. Gula tersebut bukan sekadar buah tangan, tetapi menjadi pengingat akan perjalanan yang telah dilalui dari meniti lereng, mengambil nira, menunggu proses pemasakan, hingga menyaksikan sendiri nira berubah menjadi gula aren.
Bagi Suci dan peserta lainnya, proses tersebut menjadi pembelajaran sederhana yang sarat makna. Apa yang bagi masyarakat Baduy merupakan aktivitas sehari-hari justru memberikan pengalaman baru tentang ketekunan, kesabaran, dan keselarasan dengan alam. Setetes demi setetes nira dikumpulkan, dua jam lamanya dimasak, lalu dalam sepuluh menit dicetak menjadi gula. Dari proses panjang itulah peserta belajar bahwa sesuatu yang manis sering kali lahir dari perjalanan yang tidak singkat.
Penulis: Suci Ambar Wati, S.Pd (Guru MAN 1 Yogyakarta)



