Semarak Final LKTI Hari Santri 2026, Enam Santri Unjuk Gagasan untuk Negeri

Yogyakarta (Humas) — Semangat intelektual santri mewarnai babak final Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) dalam rangka Hari Santri Nasional 2026 yang diselenggarakan Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta, Rabu 21/10/2026. Enam finalis tampil mempresentasikan gagasan dan hasil pemikiran terbaiknya, membuktikan bahwa santri tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki daya pikir kritis, kreativitas, dan kepedulian terhadap persoalan bangsa.
Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian peringatan Hari Santri 2026 yang dirancang untuk memberikan ruang bagi santri dalam mengembangkan potensi akademik, budaya literasi, dan kontribusi intelektual bagi pembangunan Indonesia.
Dalam sambutannya, Kepala Kantor Kemenag Kota Yogyakarta menegaskan bahwa LKTI bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan sarana untuk menunjukkan bahwa santri merupakan generasi hebat yang memiliki kapasitas keilmuan dan mampu melahirkan gagasan konstruktif bagi kemajuan bangsa.

Sejak pemerintah menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015, peringatan Hari Santri menjadi momentum untuk mengenang perjuangan ulama dan santri dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Semangat perjuangan tersebut, menurutnya, perlu diteruskan oleh generasi santri masa kini melalui penguasaan ilmu pengetahuan, pengembangan pemikiran, dan karya nyata.
Ia juga menyoroti pentingnya memberikan ruang yang lebih luas bagi santri untuk berperan dalam pembangunan nasional. Santri memiliki sejarah panjang dalam perjuangan bangsa dan harus terus mendapat kesempatan untuk menunjukkan kontribusinya dalam menjawab berbagai tantangan zaman.
“Santri adalah orang-orang hebat. Melalui karya tulis ilmiah ini, kita ingin membuktikan bahwa santri mampu menghadirkan pemikiran dan gagasan untuk membangun bangsa,” ungkapnya.
Kepala Kantor mengajak para finalis untuk terus mencintai ilmu, mengembangkan wawasan, dan membangun tradisi menulis sebagai bagian dari perjuangan intelektual. Menurutnya, cita-cita mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045 membutuhkan generasi muda yang berilmu, berkarakter, serta mampu mengubah pengetahuan menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat.
Pesan tersebut selaras dengan ungkapan dalam tradisi keilmuan Islam, “Kun ‘āliman, aw muta‘alliman, aw mustami‘an, aw muḥibban, wa lā takun khāmisan fa-tahlik,” yang berarti, “Jadilah orang berilmu, pencari ilmu, pendengar ilmu, atau pencinta ilmu; jangan menjadi golongan kelima yang akan binasa.”
Ungkapan tersebut mengandung pesan bahwa setiap orang hendaknya menempatkan ilmu sebagai bagian penting dalam kehidupannya, baik dengan menguasai, mempelajari, mendengarkan, maupun mencintai ilmu pengetahuan.
Lebih lanjut, Kepala Kantor mengapresiasi antusiasme peserta dan dukungan masyarakat terhadap penyelenggaraan LKTI. Publikasi kegiatan yang telah ditonton lebih dari 8.000 kali menunjukkan besarnya perhatian terhadap kreativitas dan potensi santri, baik dari masyarakat Kota Yogyakarta maupun luar daerah.
Tingginya perhatian tersebut menjadi penyemangat untuk terus menghadirkan ruang aktualisasi bagi santri, sekaligus memperluas pengenalan terhadap karya dan pemikiran mereka kepada publik.
Antusiasme itu juga tercermin dari proses seleksi yang cukup ketat. Dari 30 naskah yang masuk, sebanyak 24 naskah berhasil melewati tahap seleksi awal. Selanjutnya, 21 naskah dinyatakan lolos pemeriksaan plagiarisme sebelum akhirnya ditetapkan enam finalis yang berhak melaju ke babak presentasi.
Di hadapan dewan juri, keenam finalis memaparkan gagasan yang dituangkan dalam karya tulis masing-masing. Babak presentasi menjadi kesempatan bagi peserta untuk mempertanggungjawabkan argumentasi, menjelaskan hasil pemikiran, serta menunjukkan kemampuan menyampaikan ide secara sistematis dan meyakinkan.
Kepala Kantor menegaskan bahwa seluruh finalis patut berbangga atas pencapaian mereka. Keberhasilan menembus babak final merupakan hasil dari proses berpikir, menulis, dan berkompetisi yang layak diapresiasi. Adapun penentuan peringkat selanjutnya diserahkan kepada dewan juri berdasarkan penilaian terhadap karya dan presentasi para finalis.
“Bagi saya, kalian semua adalah juara. Kalian telah menunjukkan kemampuan terbaik hingga sampai di tahap ini. Selanjutnya, dewan juri akan menentukan juara dari enam finalis,” pesannya.
Melalui LKTI Hari Santri 2026, Kemenag Kota Yogyakarta berharap budaya literasi dan tradisi intelektual semakin tumbuh di kalangan santri. Santri diharapkan tidak hanya menjadi penjaga nilai-nilai keagamaan, tetapi juga tampil sebagai pemikir, penulis, dan pelopor perubahan yang mampu memberikan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
Semarak babak final ini sekaligus menegaskan bahwa semangat perjuangan santri terus berkembang mengikuti zaman. Jika generasi terdahulu berjuang melalui pengorbanan untuk kemerdekaan, santri masa kini dapat melanjutkannya melalui ilmu, tulisan, dan gagasan yang membawa manfaat bagi Indonesia.(Nis)


