Berita

Saat Murid Adu Gagasan: Sengitnya Lomba Debat 3 Kubu Warnai MPS CUP MAN 1 Yogyakarta

Yogyakarta (MAN 1 Yogya) — Ajang MPS CUP yang digelar bersamaan dengan pemilihan OSIS hari Jum’at (28/08/26) menjadi panggung adu kecerdasan dan kelancaran berbicara. Lewat Lomba Debat, para murid ditantang untuk berpikir kritis dalam menanggapi berbagai isu sosial dan politik yang sedang hangat di masyarakat.

 

Berbeda dengan format debat pada umumnya, kompetisi kali ini menggunakan mekanisme yang sangat menantang. Setiap sesi mempertemukan 3 tim sekaligus yang bertanding dalam satu panggung, yang terbagi ke dalam kubu Pro, Kontra, dan Netral. Setiap kelas mengirimkan 1 tim tangguh yang terdiri dari 3 orang anggota tanpa batasan gender.

 

Atmosfer ketegangan langsung terasa begitu panitia membacakan mosi yang diundi secara acak dari 10 topik yang telah disiapkan. Topik-topik tersebut sangat berbobot, mulai dari keterlibatan influencer dalam politik, dampak Kecerdasan Buatan (AI) terhadap demokrasi, hingga kewajiban tes literasi politik bagi pemilih pemula.

Setelah mosi dibacakan, setiap tim hanya diberikan waktu 3 menit untuk melakukan case building atau menyusun argumen tanpa bantuan gawai sama sekali. Panitia melarang keras penggunaan HP, internet, maupun tablet selama debat berlangsung. Alhasil, para peserta hanya mengandalkan catatan tertulis, data penting, dan ketajaman berpikir spontan mereka di atas panggung. Mereka mematuhi batasan waktu dengan disiplin dan menjaga ketertiban tanpa melakukan serangan pribadi atau membawa unsur SARA.

 

Kepala MAN 1 Yogyakarta Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd., mengatakan lomba debat menjadi ruang bagi murid untuk melatih kemampuan menyampaikan pendapat sekaligus belajar melihat persoalan dari berbagai sudut pandang. Menurutnya, format tiga kubu membuat murid tidak hanya dituntut mampu mempertahankan argumen, tetapi juga memahami posisi yang berbeda.

“Yang menarik dari debat ini, murid tidak hanya belajar berbicara, tetapi juga belajar menyusun argumen dan mendengarkan pandangan yang berbeda. Itu penting, terutama ketika mereka membahas isu-isu yang dekat dengan kehidupan masyarakat,” ujarnya.

 

Lomba debat MPS CUP kali ini sukses membuktikan bahwa murid madrasah kita tidak hanya berani bersuara, tetapi juga matang dalam berpikir kritis dan demokratis. (lik)

Leave a Reply