Saat Harapan Hampir Padam, Penyuluh Agama Hadir Menguatkan Warga Binaan di Balik Jeruji

Kepedulian terhadap sesama tidak mengenal batas dan sekat. Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kota Yogyakarta melalui Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Yogyakarta terus menghadirkan pelayanan keagamaan yang berdampak melalui kegiatan bimbingan dan konseling bagi warga binaan Rutan Kelas IIA Yogyakarta, Senin (2/11/2026).
Kegiatan berlangsung di Masjid At-Taqwa Rutan Kelas IIA Yogyakarta dengan rangkaian bimbingan belajar Al-Qur’an, konsultasi permasalahan kehidupan, serta penguatan spiritual bagi warga binaan.
Dalam kegiatan tersebut, salah satu penyuluh agama, Khaerudin, mendapat kesempatan mendampingi warga binaan yang tengah menghadapi persoalan kehidupan cukup berat hingga berada pada kondisi hampir putus asa. Melalui pendekatan yang humanis, penyuluh hadir memberikan ruang untuk bercerita, mendengarkan keluh kesah, serta memberikan motivasi dan penguatan agar warga binaan tetap memiliki harapan dan semangat menjalani kehidupan.
Pendampingan ini menjadi bagian penting dari peran penyuluh agama. Tidak sekadar menyampaikan materi keagamaan, penyuluh juga hadir sebagai sahabat dialog yang memberikan perhatian, penguatan mental spiritual, dan motivasi bagi mereka yang sedang menghadapi masa-masa sulit.
Kegiatan dilanjutkan dengan tausiah oleh Saebani yang mengangkat tema hakikat manusia yang berasal dari tanah dengan merujuk QS. An-Najm ayat 32. Pesan yang disampaikan mengajak warga binaan untuk menyadari hakikat penciptaan manusia, senantiasa rendah hati, tidak berputus asa, serta terus berupaya memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama, memohon ampunan, kekuatan, keteguhan hati, serta keberkahan agar setiap warga binaan diberikan kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Melalui kegiatan ini, IPARI Kota Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk menghadirkan penyuluhan agama yang lebih humanis, menyentuh, dan berdampak. Kehadiran penyuluh di tengah warga binaan menjadi wujud nyata bahwa setiap manusia berhak mendapatkan perhatian, pendampingan, dan kesempatan untuk bangkit memperbaiki kehidupan.
Dakwah bukan sekadar menyampaikan nasihat, tetapi juga menghadirkan telinga untuk mendengar, hati untuk memahami, dan tangan untuk menguatkan mereka yang hampir kehilangan harapan.[ekoAW]



