Artikel

PESAN MORAL PERISTIWA ISRA’ MI’RAJ NABI

Naskah Tulisan Kepala KUA Mergangsan Jaenal Syarifudin, SHI, MSI

Isra’ Mi’raj merupakan sebuah peristiwa bersejarah yang luar biasa dan menjadi mukjizat bagi Rasulullah SAW. Peristiwa ini diabadikan di dalam kitab suci Alquran surat al-Isra ayat 1;

“Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Perjalanan luar biasa yang hanya bisa diyakini dengan nalar keimanan ini membawa wahyu perintah salat wajib lima waktu sehari semalam. Sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj ini kaum muslimin sesungguhnya juga telah menunaikan ibadah salat, hanya belum salat lima waktu sebagaimana yang kita tunaikan saat ini. Bahkan syariat ibadah salat sesungguhnya juga telah ada pada masa Nabi sebelum diutusnya Rasulullah SAW.

Ada beberapa pesan moral dari peristiwa Isra’ Mi’raj ini yang patut kita renungkan untuk menjadi ibrah dan pelajaran bagi kaum muslimin;

Pertama, Jika kita ingin menjadi hamba Allah yang dekat dengan-Nya dan memiliki maqam ruhani yang tinggi, hendaklah kita berupaya membersihkan jiwa kita. Hal ini disimbolkan dengan peristiwa operasi suci dengan dibelahnya dada Rasul yang mulia sebelum memulai perjalanan Isra’ Mi’raj. Setelah dibelah dadanya dan disucikan hatinya oleh Malaikat Jibril, ditiupkanlah sepenuh iman, ilmu dan hikmah ke dalam dada Rasulullah. Maka iman, ilmu dan kearifan juga menjadi kunci dalam meninggikan derajat hamba Allah sebagaimana firman Allah di dalam Alquran.

Kedua, Isra’ Mi’raj adalah peristiwa yang sangat lekat dengan masjid. Sehingga hendaklah seorang muslim selalu dekat dan terpaut hatinya dengan masjid. Semangat memakmurkan masjid harus kita tumbuhkan. Baik dengan ibadah salat berjamaah sebagaimana dicontohkan
Rasulullah saat beliau mengimami salat di Masjidil Aqsha pada malam Isra, maupun dengan berbagai ibadah yang berdimensi lebih luas. Rasulullah menjanjiikan dalam sabdanya bahwa di antara tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat nanti adalah orang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid (rajulun qalbuhu mu’allaqun bilmasajid).

Ketiga, Shalat adalah ibadah agung yang sangat penting dan istimewa kedudukannya dalam agama Islam. Ketika Allah hendak memerintahkan kaum muslimin untuk menunaikan suatu ibadah maupun kewajiban, biasanya Allah cukup menurunkan perintah-Nya melalui ayat-ayat Alquran maupun melalui wahyu langsung kepada Nabi. Misalnya perintah untuk berpuasa, bersedekah, berhaji dan sebagainya. Namun ketika Allah hendak memerintahkan umat Islam untuk menunaikan ibadah salat lima waktu, seolah Allah merasa tidak cukup jika hanya dengan menurunkan perintah melalui ayat Alquran saja. Allah merasa perlu langsung memanggil Rasulullah untuk sowan menghadap-Nya. Dan itu pun dilakukan dengan cara yang sangat dahsyat. Maka tentu saja wahyu yang dibawa dalam peristiwa agung ini adalah sebuah ibadah yang sangat amat penting kedudukannya dalam agama. Salat adalah tiang agama dan “mi’raj-nya” orang-orang beriman. Juga amal yang pertama akan dihisab di akhirat kelak. (*)

(Sumber tulisan; kolom Mutiara Jumat harian Kedaulatan Rakyat).