Peringati HUT RI ke-81, Penghulu KUA Mantrijeron Sampaikan Reinterpretasi QS. Ar-Ra’d: 11 Saat Khutbah Jum’at

Yogyakarta (KUA Mantrijeron)– Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, Masjid Nurul Iman Blimbingsari, Yogyakarta menggelar pelaksanaan ibadah salat Jumat yang berlangsung khidmat pada Jumat (7/8/2026). Bertindak sebagai khatib sekaligus imam pada kesempatan tersebut yakni Mu’inan, S.H.I., M.S.I., yang juga menjabat sebagai Penghulu KUA Mantrijeron, Yogyakarta.
Dalam khutbahnya yang bertema “Merawat Anugerah Kemerdekaan RI Ke-81: Reinterpretasi Penafsiran QS. Al-Ra’du: 11”, Mu’inan mengajak seluruh jemaah untuk memantapkan mata batin dan merenungi hakikat kehidupan melalui peningkatan takwa serta rasa syukur atas nikmat kemerdekaan yang telah dilimpahkan oleh Allah SWT.
Mu’inan soroti pemahaman umum masyarakat yang kerap menafsirkan Surah Ar-Ra’d ayat 11 secara parsial dan tekstual—seolah-olah manusia memegang kendali mutlak atas perubahan nasibnya. Menurutnya, pandangan sempit yang menilai perubahan nasib semata-mata ditentukan oleh keringat manusia berpotensi menimbulkan masalah teologis dan realitas empiris. Secara teologis, keyakinan tersebut dapat menggiring pada paham Mu’tazilah yang menanamkan keangkuhan diri, seakan takdir dan rahmat Allah berada di bawah kendali ikhtiar manusia semata.
Mengutip pandangan para ulama tafsir terkemuka seperti Imam At-Thabari dalam Jāmi’ al-Bayān dan Imam Al-Baidhawi dalam Anwār al-Tanzīl, Mu’inan menjelaskan bahwa kata yughayyiru (mengubah) pada ayat tersebut sejatinya merujuk pada degradasi atau penurunan dari kondisi penuh nikmat menuju malapetaka akibat penyimpangan etis dan moral, bukan sebaliknya.
“Pesan inti Surah Ar-Ra’d ayat 11 bukanlah tentang keangkuhan manusia dalam mengubah nasib, melainkan peringatan keras agar kita merawat nikmat kemerdekaan yang telah Allah berikan agar tidak berubah menjadi kehancuran akibat ulah tangan kita sendiri,” tegas Mu’inan di hadapan para jemaah.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa nikmat kemerdekaan sebagai nikmatul ‘udzma dapat terdegradasi apabila diwarnai oleh sikap kufur nikmat, praktik korupsi, kesewenang-wenangan, perpecahan, serta pengabaian nilai-nilai moral. Mengutip hadis riwayat Imam Bukhari dari Ummul Mu’minin Zainab binti Jahsy RA, ia mengingatkan bahwa suatu bangsa dapat binasa jika kemaksiatan dan kezaliman (al-khabats) dibiarkan merajalela.
Menutup khutbahnya, Penghulu KUA Mantrijeron tersebut mengimbau jemaah agar tidak mendasarkan pembangunan bangsa di atas keangkuhan potensi diri. Ia mengajak masyarakat untuk mengisi dan merawat kemerdekaan Indonesia melalui penegakan keadilan, penguatan rasa persaudaraan, serta rasa syukur yang nyata kepada Sang Maha Pemberi Anugerah. (m.uin@n).



