Berita

Penyuluh Umbulharjo Merawat Kemerdekaan dengan Laku Urip Yogyakarta Istimewa: Hamemayu Hayuning Bawana

Yogyakarta — Kemerdekaan tidak selalu harus dirayakan dengan gegap gempita. Di tanah Jawa, kemerdekaan menemukan maknanya dalam laku—bagaimana manusia menjalani kehidupan dengan kesadaran, tata krama, dan kebermanfaatan bagi sesama.

Semangat itulah yang terasa dalam Gebyar Jalan Sehat HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan RW 11 Muja Muju, Umbulharjo, Sabtu (22/8/2026). Warga berkumpul, berjalan bersama, bersilaturahmi, dan merawat keguyuban sebagai bagian dari rasa syukur atas kemerdekaan.

Dalam kegiatan tersebut, Kaum Rois Umbulharjo turut memberikan doa. Hadir pula Penyuluh Agama Islam KUA Umbulharjo, H. Khaerudin, S.Ag., yang memberikan doa sekaligus dukungan terhadap kegiatan warga.

Bagi penyuluh, jalan sehat bukan sekadar perkara menggerakkan tubuh. Ada filosofi yang lebih dalam: mlaku bebarengan, berjalan bersama. Sebuah gambaran tentang kehidupan bermasyarakat bahwa manusia tidak hidup untuk dirinya sendiri. Ada tetangga yang harus disapa, ada lingkungan yang harus dijaga, dan ada kehidupan bersama yang harus dirawat.

Dalam falsafah Jawa dikenal ungkapan “Hamemayu Hayuning Bawana”—memelihara keselamatan, keindahan, dan keharmonisan dunia. Nilai tersebut menemukan bentuknya dalam hal-hal sederhana: guyub rukun, gotong royong, tepa selira, dan kesediaan untuk menjadi bagian dari kebaikan bersama.

Kemerdekaan pun tidak berhenti pada makna bebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga merupakan kesempatan untuk menentukan laku hidup: bebas memilih kebaikan, bebas mengabdi, dan bebas memberikan manfaat bagi negeri.

“Merawat kemerdekaan dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Menjaga kerukunan, menghormati perbedaan, membantu sesama, dan mencintai tanah air adalah bentuk nyata bela negara,” pesan H. Khaerudin.

Di Yogyakarta, falsafah itu semakin terasa melalui kesadaran bahwa kehidupan harus dijalani dengan unggah-ungguh, andhap asor, dan tepa selira. Sebab Jogja Istimewa bukan hanya sebuah predikat, melainkan laku kebudayaan yang hidup dalam perilaku masyarakatnya.

Urip iku urup—hidup hendaknya menjadi cahaya. Bukan hanya menerangi diri sendiri, tetapi juga memberi terang bagi lingkungan.

Dari sebuah lapangan di RW 11 Muja Muju, pesan kemerdekaan itu pun menjadi sederhana sekaligus mendalam: berjalan bersama, menjaga persaudaraan, merawat kampung, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.

Inilah kemerdekaan yang membumi—kemerdekaan yang tidak hanya dikenang melalui sejarah, tetapi dihidupkan melalui laku.

Hamemayu hayuning bawana.
Memayu hayuning sesami.
Guyub rukune, tentrem uripe, migunani tumraping bangsa. [khaer]

Leave a Reply